To All the Cats I Loved Before

Kali ini aku akan menulis tentang hubunganku dengan kucing-kucing yang sempat mampir ke dalam kehidupanku di masa dewasa. Masa dewasa maksudnya tidak termasuk kucing-kucing di masa kecilku yang dipelihara oleh papahku, karena sejak aku kecil keluargaku sudah hidup bersama kucing dan berbicara dengan kucing. Makanya aku pun seperti itu. Bukan karena cat lover itu genetis ya tapi karena dipelajari dalam keluarga. Jadi parents, kalau kalian adalah penyayang binatang, kemungkinan besar anak-anak kalian akan jadi penyayang binatang juga, karena mereka akan meng-copy paste apa yang mereka lihat di rumahnya dan membawanya sampai kelak mereka keluar dari rumah.

Tahun 2012 adalah tahun pertama aku dan suamiku memiliki kucing, Lucha namanya, kucing tabby abu-abu keputihan persis seperti macan putih. Lucha yang waktu itu berusia kurang lebih 2 bulan kami adopsi dari salah satu sahabat baik kami yang adalah seorang cat lover sejati. Sayangnya Lucha hanya bertahan satu minggu saja di rumah kami. Karena kami masih ngontrak dan the landlady dengan keras melarang kami memelihara kucing, ditambah waktu itu Lucha diare dan kami merasa tidak bisa meng-handle-nya plus perasaan kasihan melihat dia yang kesepian tidak ada teman dan selalu ingin mengusel-usel kami. Pada waktu itu kami menyerah dengan segala keruwetan itu (terutama soal landlady) dan mengembalikan Lucha ke sahabat kami. Aku menangis waktu itu, walaupun tahu Lucha berada di tangan yang lebih baik dan lebih professional.

Lucha memberikan ciuman kecilnya.

Kami mulai melupakan impian kami untuk bisa memelihara kucing, dan pasrah untuk co-exist dengan tikus-tikus yang jumlahnya sungguh di luar nalar di kontrakan kami. Sudah begitu mereka nekatnya audzubilah. Misalnya malam-malam aku lagi nonton Grey’s Anatomy di depan laptop di ruang tamu, mereka santai saja jalan-jalan di depanku. Tupperware mahal-mahal yang aku beli dengan susah payah habis semua mereka makan tutupnya. Aku lagi nggoreng ayam, ayam yang matang sedang aku tiriskan, terus aku pengen pipis, aku ke kamar mandi, pas balik, eh ayam yang sedang ditiriskan sudah mereka gondol. Aku bikin sop balungan, padahal panci tertutup rapat lho, eh paginya, tutup panci sudah terbuka, dan balungannya hilang semua. Sampai kami membayangkan jangan-jangan setiap malam tikus-tikus itu bermutasi, berjalan dengan dua kaki, dan membuka panci dengan kedua tangannya. Sumpah deh kemampuan mereka itu berkembang banget.

Berbagai macam cara sudah kami coba untuk bisa berdamai dengan kucing-kucing itu. Dari mulai mencari buah bintaro yang katanya tikus takut, eh malah buah bintaronya ditendang-tendang sama mereka dipakai main bola. Beli jangkrik di pasar hewan karena katanya tikus takut suara jangkrik, tidak mempan juga. Beli perangkat tikus (yang berbentuk penjara karena kami juga tidak mau menyakiti), eh umpannya saja diambil, tapi mereka tidak terjebak di dalam perangkap penjaranya tuh, hahaha. Hingga aku ingat kata-kata bijak yang mengatakan, jika kamu tidak suka dengan sesuatu ada 3 pilihan: singkirkan, ubah, atau belajar untuk hidup bersama.

Dua cara bertama sudah gagal, akhirnya kami coba cari ketiga, we learnt to co-exist with them, mereka kita kasih nama dan kita sediakan makanan khusus di loteng atas tempat jemuran. Tapi jumlah mereka malah makin banyak saja. Setiap malam mereka berlarian grudug-grudug di atas plafon, berisik sekali, dan mereka mulai beranak pinak. Pernah suatu hari aku sedang membuat kopi di dapur tiba-tiba, tlebuk, bayi-bayi tikus masih merah jatuh dari atas loteng, hiiiii. Ada juga yang beranak di dalam sofabed (dilubangi bagian bawahnya), dan ada yang mati di atas plafon atau di dalam rumah, baunya ya ampun. Waktu itu masalah kami dengan tikus-tikus serasa menjadi masalah abadi yang tidak ada solusinya.

Hingga pada suatu malam, solusi tiba-tiba datang, mengetuk pintu rumahku. Seorang pangeran ganteng diutus Tuhan dari langit untuk menyelesaikan permasalahan hidup kami. Hahaha ga lebay tahu, memang begitu kok kejadiannya. Waktu itu, awal tahun 2014, malam hari sekitar jam 11, aku masih lembur di depan laptop di ruang tamu kontrakanku sambil menghadap TV, pintu depan seperti biasa aku buka sedikit. Kami tidak pernah menutup pintu kecuali kalau sudah benar-benar mau tidur. Tiba-tiba pangeran ganteng itu, berwarna oranye, dengan bulu yang sangat bagus dan buntut panjang, sudah berdiri di pintu yang terbuka sedikit itu. Aku sampai terpana, seperti mimpi.  Aku panggil dia, tapi pas aku berdiri hendak menyentuhnya, dia langsung lari ketakutan. Dan begitulah, hari-hari besoknya setiap malam dia selalu datang, dan selalu lari ketakutan setiap kami dekati. Dia benar-benar kucing pengembara sejati, belum pernah merasakan sentuhan manusia.

Pendekatan pun kami lakukan tapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Kami sediakan makanan kucing di ruang tamu dan kami sengaja masuk kamar, biar dia masuk dulu, makan, dan merasa nyaman. Seiring berjalannya waktu, pangeran ganteng yang sama sekali tidak pernah mengeluarkan suara hingga kami yakin dia adalah kucing bisu ini, akhirnya mau berteman dengan kami. Setiap hari dia datang ke rumah kontrakan kami, tapi tidak pernah terlalu lama, hanya datang, makan, minum, santai-santai sebentar, dan pergi lagi untuk mengembara. Besoknya dia akan datang lagi, setiap hari! Pengembara ganteng ini akhirnya kami beri nama Coren!

Setelah keberadaan Coren setiap hari di rumah kami, rumah kami menjadi ber-aura kucing, alhasil aura kucing itu secara alami membuat tikus-tikus di rumah kami lari tunggang langgang entah kenapa. Just like that, problem solved dengan sendirinya. Setelah akrab dengan kami, Coren dan suamiku mulai sering berkonspirasi berburu tikus-tikus yang masih tersisa. Lucu sekali. Suamiku akan memegang senter dan menyinari kolong-kolong, Coren akan bersiaga, dan sigap menangkap tikus yang keluar, kadang suamiku ikut membantu menghadang si tikus. Sungguh kerja sama yang ciamik dan hampir selalu membuahkan hasil.

Konspirasi perburuan tikus bersama Coren.

Lucunya, pada awalnya setiap kali habis mendapatkan buruan, Coren selalu menggondolnya keluar untuk memakannya di tempat yang sepi. Tapi pada suatu hari, mungkin karena dia berpikir kami juga berperan besar membantunya menangkap tikus itu, jadi dia ingin membaginya untuk kami. Dimulailah setiap kali Coren mendapatkan buruan, dia akan menggondol tikusnya dan menaruhnya di hadapan kami, seolah mengatakan, “silakan dimakan, ini enak lho, dan ini kan hasil buruan kita bersama,” sementara aku malah menjerit-jerit naik ke atas sofa, dan Coren memandang dengan aneh, “uuh ungrateful human,” begitu mungkin batinnya. Dan ternyata Coren bukan kucing bisu, dia bisa mengeong seperti kucing-kucing pada umumnya, bahkan suaranya kencang sekali. Berarti di awal dia hanya pemalu saja, hehehe.

Selama satu tahun lebih Coren menjadi bagian dari hidup kami sehari-hari. Kami selalu menyediakan makanan dan minuman setiap hari. Coren datang setiap hari, tidak ada satu haripun dia absen. Dan dia semakin nyaman untuk berlama-lama nongkrong di rumah kami, bahkan tidur siang di atas sofa kami atau di atas keset. Walaupun begitu, selama satu tahun lebih itu tidak sekalipun Coren pernah stay overnight alias menginap. Hingga pada suatu hari di bulan Juli 2015 setelah Lebaran, Coren tidak datang lagi ke rumah kami. Setiap hari kami menunggunya dan mengharapkan kedatangannya. Akhirnya pada hari keempat setelah kami menanti-nantikannya, Coren datang! Tapi bersimbah darah, lehernya berlubang! Darah keluar banyak membasahi bulunya yang berwarna oranye. Dia lemas dan mengeong kesakitan sambil menatap kami.

Selama Coren tidak datang ke rumah kami, terjadi pergolakan di dunia perkucingan, hehehe. Karena banyak orang tidak suka kucing di kampung kami pada saat itu dan bahkan konon ada larangan memelihara kucing, jadi relatif jarang sekali kami melihat kucing berkeliaran, Coren adalah satu dari sedikit sekali kucing yang berkeliaran di kampung kami. Hingga saat itu, ketika 3 hari Coren tidak datang ke rumah kami, tiba-tiba di sekitar rumah kontrakan kami banyak sekali anak-anak kecil usia 2 bulanan, Ada 4 yang berkeliaran di atas dinding tinggi depan rumah kami dan ada 2 yang mengeong-ngeong di longkangan selebar 15 cm yang memisahkan dinding rumah kami dengan dinding rumah tetangga.

Suamiku mengatakan mungkin karena Coren sang penguasa menghilang, sehingga terjadi pemberontakan dari para pemberontak-pemberontak kecil itu, hahaha. He’s just being dramatic, kalau menurutku sih memang ada yang sengaja meletakkan atau membuang kucing-kucing di dekat rumah kontrakan kami. Beberapa hari kemudian 4 anak kucing yang di atas dinding sudah tidak ada lagi, tinggal 2 anak kucing yang di longkangan samping rumah. Karena kasihan dengan suara meong-meongnya, akhirnya kami menaruh makanan di depan longkangan itu. Sepertinya memang mereka sengaja dibuang oleh entah siapa karena kondisinya tidak terlalu oke. Yang lebih besar seekor kucing kampung calico yang tampak penyakitan, sementara yang lebih kecil seekor kucing grey tabby berbulu tebal, sepertinya blasteran, tapi matanya yang satu buta dan tidak memiliki ekor.

Kembali ke soal Coren yang datang dengan bersimbah darah. Kami segera melarikannya ke klinik hewan terdekat. Di sana Coren dibersihkan lukanya dan ternyata lehernya berlubang hingga kelihatan tulangnya, literally kelihatan tulangnya. Vet mencukur bulu-bulu Coren di sekitar leher agar lebih mudah mengobatinya. Coren pun dirawat inap selama beberapa hari. Pada waktu itu entah kenapa ada perasaan lega merayapi hatiku, karena selama ini setiap kali Coren sedang tidak berada di rumah kami, aku selalu merasa khawatir, takut dia dijahati orang. Dengan mengetahui dia berada di tempat yang aman aku merasa lega. Ketika kami mengambil kembali Coren, Vet memberikan obat untuk rawat jalan, termasuk salep yang harus dioleskan pada lehernya yang bolong, sambil mengatakan, selama 1 bulan penuh Coren harus dikurung dan tidak boleh keluar rumah sama sekali agar lukanya bisa segera sembuh karena salep dan obatnya harus rutin diberikan sehari 2 kali.

Aku dan suamiku sama-sama tahu adalah hal yang super duper mustahil untuk mengurung Coren si pengembara. Jangankan di kandang, dikurung di dalam rumah pun impossible. Walaupun begitu, kami tetap mencobanya selama 1 hari dan gagal total. Coren mengamuk dan mengeong-ngeong ingin keluar. Dia bukan kucing rumahan, seumur hidupnya dia bebas mengembara, bagaimana mungkin kami bisa mengurungnya. Akhirnya dengan berat hati kami pun membukakan pintu untuknya dengan berkali-kali mengatakan padanya agar setiap hari dia harus pulang ke rumah kami minimal 2 kali agar kami bisa memberikan obat dan mengoleskan salep supaya dia bisa segera sembuh. Dan tebak saudara-saudara, he did it!

Coren pulang sehari dua kali untuk memberi kesempatan kami mengobatinya. Walaupun kami sama sekali have no idea ke mana dia mengembara tapi pokoknya sehari 2 kali dia akan menyambangi rumah kami, biasanya pagi hari dan malam hari. Tidak cukup sampai di situ saja keajaiban yang terjadi. Vet mengatakan paling tidak butuh waktu 1 bulan setelah obat dan salep rutin diberikan baru dia akan bisa pulih, itu juga kalau dia beruntung. Tapi hanya 2 minggu saja setelah Coren kami ambil dari klinik, dia sudah sembuh total. Lubang di lehernya sudah tertutup daging lagi dan bulu oranye sudah tumbuh kembali menutupinya. Coren pulih seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sungguh ajaib.

2 anak kucing yang tadi aku ceritakan di awal akhirnya tinggal di rumah kami dan menjadi kucing kami. Mereka adalah pengalaman pertama kami memiliki kucing yang stay, walaupun mereka bebas bermain di luar tapi mereka selalu pulang ke rumah kami. Si grey tabby buta sebelah dan tanpa ekor kami beri nama Cucil sementara si calico yang terlihat lebih besar awalnya kami beri nama simalu, karena di awal dia sangat pemalu tidak seperti Cucil. Namun ke sini-sini dia kami panggil Mbake, merujuk pada dia adalah Mbake (kakaknya) si Cucil yang dibuang bersama dengannya di longkangan samping rumah kami. Cucil sangat sayang pada Mbake, setiap hari mereka kruntelan dan Cucil selalu rajin menjilati Mbake. Mereka berdua benar-benar seperti sepasang soulmate.

Soulmate sejak kecil: Cucil dan Mbake.

Ada satu kejadian yang tidak pernah aku lupakan di awal-awal mereka menjadi kucing kami. Pernah aku dan suamiku pergi selama 3 hari dan mereka kami taruh saja di teras, tidak di dalam rumah, dengan aku sediakan makanan dan minuman. Pada hari kedua pun aku meminta tolong temanku datang untuk memberi mereka makan dan minum di teras. Namun pada hari ketiga aku pulang, begitu melihatku Cucil langsung menubruk aku dan naik ke atas pangkuanku. Sepertinya dia sangat ketakutan ditinggal di luar rumah begitu, walaupun bersama Mbake. Akhirnya sejak saat itu kami tidak pernah lagi meninggalkan mereka di luar rumah.

Ke-soulmate-an Cucil dan Mbake bahkan terus berlanjut ketika mereka sudah dewasa, dan Mbake kawin dengan Coren dan hamil. Selama Mbake hamil, meskipun bukan anaknya Cucil tapi Cucil sangat sayang padanya. Setiap hari Mbake dipeluk dan dijilati, dan ketika keempat anaknya lahir (sebenarnya lima tapi yang satu meninggal saat dilahirkan), Cucil menjadi seekor ayah kucing yang sangat penyayang dan perhatian. Dari mulai menemani dan menjilati Mbake ketika dia memberikan ASI eksklusif sampai bermain guling-gulingan serta gulat-gulatan bersama keempat anak kucing yang berjenis kelamin jantan semua itu. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Cucil si ayah kucing peduli, mendampingi ASI eksklusif.

Pada waktu itu, di kantor tempatku bekerja sedang ada program bertajuk Laki-Laki Peduli yang mengkampanyekan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga. Dan aku melihat di rumah kucing jantanku menjadi laki-laki peduli yang ikut terlibat dalam pengasuhan anak dan pemberian ASI eksklusif, meskipun itu bukan anak-anaknya. Luar biasa ya, soulmate ternyata juga berlaku pada kucing.

Sampai akhirnya hal yang sangat-sangat menyedihkan terjadi pada awal tahun 2016, bahkan aku tidak akan menceritakannya panjang-panjang karena sampai sekarang pun masih terasa sangat menyedihkan. Suatu malam Cucil memaksa ingin keluar. Tadinya tidak aku perbolehkan tapi dia terus memaksa. Akhirnya aku bukakan pintu. Dan keesokan paginya, subuh-subuh, ketika suamiku membuka pintu rumah, dia menemukan Cucil sudah tidak bernyawa, mendekam di bawah vespa di teras kami. Cucil mati diracun! Dan yang lebih menyedihkan lagi Cucil diracunnya jauh dari rumah, tapi dia tetap memaksa pulang padahal malam itu hujan. Dia terseok-seok pulang sambil muntah-muntah di jalan. Hal itu kami ketahui dari jejak muntah-muntahnya di sepanjang jalan menuju rumah. Dia ingin meninggal di rumahnya sendiri, mungkin juga supaya kami tidak bingung mencari-carinya. Dia terlihat tenang seperti tidur. Aku menangis sejadi-jadinya dan hingga berbulan-bulan kemudian aku tidak pernah move on.

Dan ternyata bukan hanya aku saja yang tidak bisa move on, Mbake juga! Sepeninggal Cucil, dia menjadi kucing yang sangat pemurung. Setiap hari Mbake hanya tiduran saja dengan murung di tempat Cucil biasa tidur. Mbake terlihat sedih sekali dan selalu berada di tempat Cucil biasa tidur atau nongkrong yaitu di tangga di dalam rumah kami. Dan 2 minggu kemudian, Mbake pun menyusul Cucil! Pada suatu pagi Mbake ditemukan sudah mati di Poskamling di depan rumah kontrakanku. Tidak tahu karena apa, mungkin kena racun juga. Aku menangis sedih tapi sekaligus juga merasa kalau Mbake pasti bahagia karena bisa berkumpul dengan Cucil kembali. Mereka datang berdua, dan perginya pun juga berdua. Kurang dari 1 tahun mereka memasuki kehidupan kami namun meninggalkan banyak sekali kenangan yang sangat indah dan tak tergantikan, dan juga meninggakan 4 ekor anak kucing jantan berusia 3 bulan.

Keempat anak kucing jantan itu kami beri nama Lightning Bolt alias Bolet ginger cat berbulu agak tebal dan halus, Shower of Mercy alias Shower bicolor cat kembang asem berbulu pendek, Rain Drop alias Dropi grey tabby cat berbulu agak tebal dan halus, serta Little Boxy alias Boxy grey tabby cat berbulu pendek. Melihat 2 dari anak kucing itu berbulu tebal dan halus sementara 2 lainnya berbulu pendek ala kucing kampung. Mungkin perkiraan kami sebelumnya bahwa mereka semua anak Coren salah. Kemungkinan besar Shower dan Boxy memang anaknya Coren, tapi Bolet dan Dropi adalah anaknya Cucil. Kucing kan punya 12 rahim dan mereka bisa memiliki anak dari lebih dari satu pejantan jika kawinnya dalam musim kawin yang sama.

Bolet, Shower, Dropi, dan Boxy selalu berebut minta pangku.

Hari-hari kami selanjutnya dipenuhi oleh Bolet, Shower, Dropi, dan Boxy. Mereka manja sekali, setiap hari minta dielus, dan kalau saatnya makan, mereka punya kebiasaan memanjat tubuh kami, literally memanjat, kecuali Shower. Mungkin ada yang harus aku ceritakan di sini. Shower kucingku tidak seperti kucing pada umumnya. Dia berkebutuhan khusus atau difabel. Aku tidak tahu apa difabilitasnya, tapi dia mirip penderita Cerebal Palsy (CP) kalau pada manusia. Aku tidak tahu apakah CP juga bisa terjadi pada kucing atau tidak. Jadi Shower jalannya onggong-onggong gitu (tidak lurus), wajahnya juga berbeda (seperti agak Mongoloid kalau pada manusia), dan dia lebih lama memahami hal-hal tidak seperti kucing pada umumnya.

Misalnya jika biasanya litter box kami taruh di bawah tangga, dia sudah tahu kalau mau pipis atau pup langsung ke situ. Tetapi ketika litter box kami pindah, dia tetap pipis dan pup di tempat kami biasa menaruh litter box padahal sudah tidak ada litter box-nya. Ada lagi contoh lainnya. Dia biasa tidur di atas kursi dengan cara naik ke atas koper yang kami taruh di belakang kursi kesukaannya, kemudian baru melompat ke kursi. Suatu hari, kursinya kegeser agak jauh. Tapi Shower tetap dengan kebiasaannya, naik ke atas koper dan melompat ke kursi, padahal kursinya tidak ada. Tetapi kami sangat menyayangi Shower karena dia sangat unik dan berbeda. Seumur-umur kami belum pernah melihat kucing yang seperti itu. Shower juga sangat sayang dengan saudara-saudaranya dan sangat manja pada kami.

Keempat bersaudara itu tumbuh dengan sifat yang berbeda-beda, lucu sekali, seperti manusia saja. Bolet tahu dirinya ganteng tapi sangat pemalu. Dia yang paling dekat dengan aku. Shower tadi sudah aku ceritakan. Dropi manja tapi paling jago berburu tikus, dia juga paling suka tempat tinggi. Boxy paling mbeling dan petualang, dia juga paling suka memijat aku dan suamiku. Semua berjalan lancar dan menyenangkan. Ada satu kucing kampung betina grey tabby yang suka main ke rumah kami ngecengin 4 cowok kucing ganteng di rumah kami. Si gadis kampung abu-abu itu kami beri nama Somali. Keempat kucing kami bebas keluar tapi mereka selalu sedikit-sedikit pulang, tidak pernah pergi terlalu lama. Everything went so well.

Boxy ketika terbaring di klinik dengan kondisi sangat memprihatinkan akibat serangan virus Panleukopenia (September 2016).

Hingga pada suatu hari di bulan September, tetangga mengatakan ada kucing yang mati di halaman rumahnya. Merasa keempat kucing kami ada di rumah semua, kami tidak terlalu khawatir, tetapi kami tetap menengoknya, dan ternyata si gadis Somali yang meninggal. Tetangga mengatakan sejak malam hari dia sudah sekarat dan tetanggaku itu menungguinya sampai dia menghembuskan napas terakhirnya. Ternyata di lingkungan yang didominasi orang-orang yang melarang kucing, tetap ada orang yang sangat peduli pada kucing. Somali pun kami kuburkan. Tapi tidak lama setelah itu, Boxy, salah satu kucing kami tidak pulang selama lebih dari 24 jam, bahkan hampir 48 jam. Kami sangat khawatir, namun pada pagi hari di hari ketiga Boxy tidak pulang, aku naik ke loteng tempat jemuran, dan menemukan Boxy sudah berada di sana, tengah mendekam dengan posisi keempat kaki dilipat ke dalam.

Kami panggil dia diam saja tidak bereaksi. Kami bawa turun dan kami beri makan dan minum, dia tidak mau makan dan minum. Dia tampak sakit dan kondisinya terlihat lumayan parah. Akhirnya kami bawa Boxy ke klinik, dan di situlah kami mengenal Panleukopenia, salah satu virus kucing yang paling mematikan. Aku segera mencari-cari informasinya di internet, dan konon kabarnya hanya 5 % dari keseluruhan kucing yang terkena virus ini yang bisa selamat. Di banyak kasus bahkan kucing-kucing itu akan segera mati hanya dalam hitungan jam atau hari. Virus ini cepat menular, namun hanya bisa menular di antara sesama kucing dan berang-berang, tetapi tidak bisa menular ke binatang lain apalagi ke manusia.

Akhirnya Boxy kami rawat inap di sebuah klinik di daerah Gedong Kuning Yogyakarta. Kondisinya sangat parah sekali. Sebelum kami meninggalkannya di klinik, kami memegangnya dan mengatakan bahwa kami menunggunya di rumah, jadi dia harus pulang ke rumah, karena kami dan ketiga saudaranya menunggunya. Vet mengirimkan update setiap hari. Salah satunya ketika Boxy dalam kondisi terparahnya, terbaring tidak bisa bangun dengan darah keluar dari mulut, hidung, dan telinganya. Sejujurnya pada awalnya vet sudah pesimis Boxy akan bisa bertahan. Kami pun demikian. Namun kami tetap selalu menengoknya di ruang isolasi di klinik itu dan memberinya semangat, mengatakan berulang-ulang padanya kalau kami menunggunya di rumah.

Boxy beberapa minggu setelah keluar dari klinik namun masih sangat kurus walaupun sudah ceria (November 2016).

Keajaiban terjadi! Beberapa hari kemudian, kondisi Boxy berangsur-angsur membaik. Bahkan setelah 10 hari dirawat inap, Boxy dinyatakan sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Vet-nya sampai takjub. Berarti Boxy adalah kasus 5 % yang disebutkan di internet tadi. Menurut Vet-nya, Boxy semangat hidupnya tinggi sekali, itu yang membuatnya bertahan. Aku dan suamiku curiga, jangan-jangan itu karena kami selalu mengatakan padanya bahwa kami menunggunya di rumah. Cinta itu memang menyembuhkan, baik pada manusia maupun pada binatang. Jadi jangan ragu-ragu untuk menyebarkan cinta, hehehe. Tapi jangan dikira Boxy pulang dalam keadaan seperti sedia kala ketika sebelum sakit. Sama sekali tidak!

Tubuhnya kurus sekali, hanya tersisa tulang dibalut kulit dan sedikit bulu saja. Bulu di kaki rontok semua, sehingga keempat kakinya terlihat seperti kaki ayam yang tidak ada bulunya. Bulu di leher juga rontok dan ada beberapa luka di leher. Napasnya pun terdengar sesak seperti napas seorang simbah-simbah berusia 100 tahun. Setiap malam ketika kami tidur, kami selalu mendengar dengan jelas napas Boxy yang tersengal-sengal. Dia juga tidak tidak aktif bergerak seperti dulu. Dia hanya diam saja di tempat yang sama, tidak banyak bergerak. Tetapi dia hidup, dia hidup! Kami, terutama suamiku, merawat Boxy dengan sangat telaten. Ketiga saudaranya pun sesekali menengok Boxy yang kami tempatkan di dalam kandang.

Boxy setelah pindah ke rumah baru; gendut, bulet, dan segar (Desember 2016).

Perlahan tapi pasti, Boxy mulai pulih. Tubuhnya mulai ada dagingnya dan bulu-bulu mulai tumbuh kembali. He fought his way back to life. Dan beberapa bulan kemudian, tepatnya di akhir November 2016, kami mengajak Boxy dan juga Bolet, Shower, dan Dropi untuk pindah ke rumah yang kami beli dengan kredit KPR, 7 km ke arah selatan dari rumah kontrakan kami, yaitu di daerah Pendowoharjo, Sewon, Bantul, karena kami ingin mencari lingkungan yang lebih ramah kucing, agar kami tidak selalu merasa khawatir dan was-was ketika kucing-kucing kami bermain di luar rumah. Kami membawa mereka menggunakan motor, Bolet dan Shower kami masukkan ke dalam tas ransel kucing dan aku gendong di belakang seperti backpack. Sementara Dropi dan Boxy kami letakkan di keranjang yang ditaruh di bagian depan motor.

Sesampainya di rumah baru, Bolet, Shower, Dropi, dan Boxy segera mengendus-endus seisi rumah. Namun perpindahan tersebut tidak terlalu sulit dikarenakan semua perabotnya masih sama dengan perabot yang ada di kontrakan kami dahulu yang sudah sangat mereka kenal. Meskipun demikian, sesuai dengan saran dan petunjuk yang aku baca-baca di internet, mereka tetap aku kurung dulu di dalam rumah selama seminggu full agar mereka bisa mengenali rumah baru mereka dulu dan pomah (istilah Bahasa Jawa-nya yang kurang lebih berarti kerasan) sehingga mereka tidak akan kabur atau mencari rumahnya yang lama.

Seminggu kemudian, mereka berempat kami bebaskan keluar, dan mereka langsung tampak kerasan dengan lingkungan mereka yang baru, karena lebih banyak ruang bagi mereka untuk berlarian. Belakang rumah adalah hamparan sawah dan kanan kiri rumah adalah rumah-rumah tetangga yang masih setengah jadi atau belum dihuni atau bahkan kavling yang belum dibangun sehingga banyak sekali ruang bagi mereka berempat untuk menjelajah. Pada waktu itu dari 12 kavling baru 7 rumah yang selesai dibangun dan dari 7 rumah itu baru 3 rumah saja yang dihuni, salah satunya rumah kami.

Di wilayah situ, sudah ada kucing penguasa berbadan besar dan berwarna putih polos dengan ekor dan bagian kepala berwarna abu-abu. Kami memanggilnya Si Putih. Putih sering bermain ke rumah kami dan menantang berkelahi keempat kucing jantan kami. Di lingkungan kami yang baru banyak sekali kucing kampung, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan hampir semua rumah memiliki kucing. Dan Putih adalah penguasanya.

Satu bulan kemudian, pada akhir Desember 2016, sepulang suamiku mengikuti acara tahlilan di kampung (perumahanku memang mepet kampung sehingga secara sosial kami menjadi bagian dari kampung), malam hari sekitar pukul delapan, ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba ada suara kucing kecil yang keluar dari sawah-sawah. Kucing kecil berusia kurang lebih 2 bulan dan berwarna grey tabby gelap itu tiba-tiba mengikuti suamiku hingga ke rumah. Suamiku membiarkan saja kucing kecil itu mengikutinya. Sesampainya di rumah, kucing kecil itu diam saja di halaman rumah kami. Suamiku membiarkannya saja, tidak membawanya masuk, karena mengira dia adalah kucing milik tetanggaku dan takutnya dicari oleh pemiliknya.

Pari, a welcoming cat, suka sekali bermain di jendela rumah kami.

Keesokan paginya, ketika kami membuka pintu, ternyata si abu-abu kecil berbuntut panjang masih berada di teras rumah kami. Kami menanyakan kepada tukang-tukang yang bekerja membangun rumah di kompleks itu (sebagian di antaranya menginap), apakah tahu soal kucing kecil itu. Mereka mengatakan bahwa sudah sekitar 3 hari terakhir ini, mereka sering mendengar suara mengeong kecil dari sawah-sawah yang memang mengelilingi kompleks perumahan kami. Kami juga mendengarnya sih, memang ada suara kucing kecil beberapa hari terakhir itu dari arah sawah. Kami menyimpulkan, berarti suara itu adalah suara dari si kucing kecil abu-abu itu dan berarti juga sudah sekitar 3 hari dia berada di sawah tidak makan dan minum dan tetap bertahan, atau mungkin dia memakan binatang-binatang kecil di sawah dan meminum tetesan embun pagi. Yang jelas kami merasa, si abu-abu kecil memilih rumah kami sebagai rumahnya sekaligus memilih kami sebagai manusianya.

And just like that, he became our fifth cat. Dia menjadi kucing kelima kami. Aku merasa dia seperti welcoming cat, menyambut kepindahan kami di rumah baru ini. Anak kucing tersebut kemudian kami beri nama Pari, Bahasa Jawa untuk padi, karena dia muncul begitu saja dari hamparan tanaman padi di belakang dan samping perumahan kami. Sekaligus berarti pariah, karena dia seperti kucing yang dibuang entah dari mana dan entah oleh siapa, tetapi dia bertahan. Pari pun segera akrab dengan keempat kucing kami yang lain. Keeempat kucing kami itupun langsung menerima dengan tangan terbuka, adik kecil yang entah muncul dari mana, tiba-tiba menjadi bagian dari keluarga kami.

Pari langsung akrab dengan keempat kakak angkatnya.

Tahun 2017 adalah tahun yang menyedihkan dalam kaitannya dengan aku dan kucing-kucingku. Pada akhir Januari 2017, Bolet, ginger cat, kucingku yang paling dekat dengan aku, pergi dari rumah. Kami menunggu-nunggunya hingga mencarinya ke mana-mana, sampai radius 8 km, karena katanya kucing bisa pergi sampai radius 8 km, tetapi dia tidak ada di mana-mana. Setiap kali aku pergi dan melihat kucing berwarna oranye aku selalu mengecek itu Bolet atau bukan. Setiap pulang kantor, aku berkeliling dulu ke sekitar rumah mencari-cari Bolet tapi dia tetap tidak ada di mana-mana.

Setiap hari aku berdoa dan menunggu kepulangan Bolet, tapi hari itu tidak pernah datang. Sampai-sampai hampir setiap malam aku bermimpi Bolet pulang atau bermimpi bertemu Bolet dan selalu berharap ketika aku bangun tidur di pagi hari, Bolet sudah berada di samping tempat tidurku, menjilat-jilat badannya seperti biasa, tapi itu tidak pernah terjadi. Berbulan-bulan aku tidak pernah move on dari kepergian Bolet dan selalu berharap dia kembali, bahkan sampai hari ini aku rasa.

Me and Bolet, best friend forever!

Bulan Maret 2017, kembali kami kehilangan kucing kami yang lain, Shower kucing kembang asem kami yang memiliki disabilitas meninggal karena tidak sengaja tertabrak mobil tetanggaku. Berbeda dengan kucing-kucing lain yang akan bereaksi menghindar jika ada suara mobil, Shower lambat merespon, dan dia memang punya kebiasaan suka tidur di bawah mobil tetangga. Kami sedih sekali, apalagi selama ini Shower-lah yang selalu menjaga rumah kami. Setiap hari dia berjaga di pintu pagar, benar-benar seperti penjaga rumah, dan dia satu-satunya kucing kami yang berani melawan Si Putih, kucing penguasa. Akhirnya Shower kami kuburkan di taman belakang rumah agar dia bisa menjaga rumah kami selamanya seperti ketika dia masih hidup.

Di bulan Maret itu juga, pada waktu itu aku masih kerja kantoran, di kantorku ada 4 bayi kucing yang ditelantarkan induknya dan tidak ada yang tahu harus bagaimana. Akupun membawa pulang keempat 4 kucing itu, 2 ginger cat, 1 kembang asem, dan 1 calico. Tapi mereka masih sangat-sangat terlalu kecil, sehingga meskipun kami memberinya susu dengan pipet dan botol kecil setiap 2 jam, sulit sekali untuk menjaga mereka tetap hidup. Lagian di usia sekecil itu, mereka belum bisa pipis dan pup sendiri. Akhirnya 2 bayi kucing meninggal, sisa 2 lagi, si kembang asem dan si calico, yang dengan penuh perjuangan, bertahan, sampai akhirnya mereka bisa makan dan minum sendiri serta sudah bisa berjalan dan berlari. Si kembang asem kami beri nama Oren dan si calico kami beri nama Lulu.

Pari sangat menyayangi mereka dan selalu mengasuh mereka serta menjilatinya layaknya seorang babysitter, termasuk memeluk dan mengguling-gulingkan kedua adik angkatnya itu. Kami sampai terkagum-kagum kok bisa ya kucing seperti itu, mungkin karena Pari merasa senasib dan sepenanggungan dulunya sebagai anak kucing yang terlantar. Semuanya berjalan baik hingga mereka berusia 2 bulan dan Oren tiba-tiba terkena diare parah dan tidak bisa bertahan hingga akhirnya meninggal. Tinggallah sisa Lulu bersama kami. Karena tidak lama setelahnya aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku di kantor itu, aku selalu merasa Lulu adalah pesangon-ku, kenang-kenanganku dari kantor lamaku.

Lulu diapit 2 kakak angkatnya, Boxy dan Pari.

Lulu pun tumbuh dewasa bersama dengan Dropi, Boxy, dan Pari, menjadi satu-satunya kucing betina di antara mereka. Kata temanku, wah mereka pasti senang sekali Mbak, kamu membawakan mereka kucing betina ke rumah. Setelah dewasa, Dropi dan Boxy segera sibuk mengejar-ngejar Lulu. Hanya Pari saja yang tidak berkeinginan untuk mengawini Lulu, mungkin karena dia masih kecil, atau mungkin karena dia adalah babysitter-nya, kakak angkat yang mengasuh Lulu dari sejak bayi. Aku lihat Lulu terlihat lebih memilih Boxy daripada Dropi, walaupun keduanya dia kawini. Mungkin karena Boxy lebih eksotis dengan near-death experience-nya, meskipun kalau secara penampilan fisik, Dropi terlihat lebih ganteng dengan bulu lebat halus dan ekor seperti kemoceng.

Lulu kemudian melahirkan 3 ekor bayi kucing yang kami beri nama Lucha, Mida, Grata. Lucha grey tabby cat terang betina, seperti Lucha kucing pertama kami dulu, sehingga kami beri yang sama. Mida grey tabby cat gelap jantan, karena dia anak tengah kami beri nama Mida. Dan Grata, ginger cat jantan, mirip Bolet, mungkin dia adalah reinkarnasi dari Bolet yang selalu aku rindukan. Lucunya, ketiga anak kucing ini selalu minum susu induknya dengan urutan minum sesuai dengan urutan kelahirannya. Mereka selalu menyusu dengan urutan Lucha yang paling dekat dengan mulut Lulu, Mida di tengah, dan Grata yang paling dekat dengan ekor Lulu. Selalu begitu! Setiap kali kami iseng mengubah urutannya, mereka akan kembali lagi dengan urutan itu. Lucu sekali.

Lucha, Mida, Grata.

Sayangnya Lucha, Mida, Grata tidak berumur panjang. Sebelum mereka berusia 2 bulan mereka sudah meninggal karena tidak bertahan dengan cuaca ekstrim pada akhir tahun 2017 itu. Pada waktu itu Bantul bahkan sempat Banjir di banyak wilayahnya. Di wilayah kami juga terdampak tetapi tidak terlalu parah. Sepertinya cuaca seekstrim itu tidak bagus bagi anak kucing, sehingga ketiga kitten Lulu tersebut tidak bertahan.

Selain itu, masih efek dari cuaca ekstrim itu juga, Pari yang memang sehari-hari bermain di luar tetapi selalu pulang, tiba-tiba tidak kelihatan selama 3 hari. Pada malam hari ketiga setelah dia tidak pulang, tiba-tiba dia pulang ke rumah tapi dengan tubuh yang sudah sangat lemas. Begitu memasuki rumah kami, dia langsung ambruk. Aku kaget melihat Pari yang kondisinya sudah separah itu. Mengingat pengalaman sebelumnya dengan Boxy, kami menduga Pari terkena virus yang sama dengan Boxy dulu, Panleukopenia, karena ciri-cirinya sama. Pari pun segera kami rawat, tetapi hanya bertahan hingga beberapa jam kemudian.

Pada dini harinya, Pari meninggal di rumah kami yang sudah dia tinggali selama tepat satu tahun. Kenapa kami bisa tahu kalau tepat satu tahun? Karena pada waktu Pari datang mengikuti suamiku ke rumah, suamiku baru saja pulang dari acara memperingati 2 tahun kematian salah seorang tetangga kami di kampung. Dan pada malam hari saat Pari datang dalam kondisi sakit dan kemudian meninggal itu, suamiku juga tengah menghadiri acara peringatan kematian tetangga yang sama untuk yang ke-3 tahun. Jadi benar-benar genap 1 tahun Pari mewarnai hidup kami.

Akhirnya kucing kami pun tinggal 3 ekor, Dropi, Boxy, dan Lulu. Tahun berganti, 2018 menggantikan tahun 2017. Pada awal tahun yang cerah, musim kawin bagi para kucing pun tiba. Kali ini Lulu yang sudah semakin dewasa dan cantik menjadi primadona di antara para kucing jantan di kampung kami. Tidak hanya kawin dengan Dropi dan Boxy, Lulu juga kawin dengan Si Putih, penguasa setempat, dan satu kucing lagi berwarna tabby keputihan dengan badan besar dan bulu agak tebal menunjukkan bahwa dia adalah kucing blasteran.

Kami memanggil si blasteran ini Si Bule karena dalam bayanganku kalau di dunia manusia Bule ini seperti Aliando, hahaha. Sepertinya Bule datang dari kampung seberang sawah, dan dia pergi ke kompleks perumahan kami hanya untuk pacaran dengan Lulu. Bahkan di malam hari, Bule sering nekat masuk ke rumah kami demi untuk bisa kawin dengan Lulu. Kami sampai sering mengomeli Lulu, “Lulu, berani-beraninya kamu memasukkan cowok ke rumah di malam hari,” hahaha. Hal itu tentu saja membuat sewot kedua kucing jantan kami di rumah, terutama Dropi. Jadilah hari-hari kami di awal tahun 2018 itu dipenuhi dengan kisah romantika percintaan Lulu dan keempat pacarnya yang sudah ngalah-ngalahin sinetron dan FTV, hihihi.

Lulu and her colorful babies: Phoenix, Perca, Dripdrip, Milu, and Kushi.

Tepat pada tanggal 1 Maret 2018, Lulu melahirkan 5 ekor anak kucing. Kami pun mereka-reka masing-masing anak adalah anak dari pejantan yang mana, hihihi. Anak pertama Lulu seekor kitten calico yang persis plek plek dengan Lulu, sehingga kami beri nama Milu (kependekan dari Mirip Lulu). Kami yakin Milu ini adalah anak dari Dropi karena wajahnya mirip sekali dengan Dropi, jadi seperti Dropi tapi dengan warna bulu Lulu. Anak kedua kitten bicolor abu-abu putih, dengan warna dominan putih namun ada blonteng-blonteng berwarna abu-abu kehitaman persis seperti potongan kain-kain perca yang ditempelkan dengan rapi, sehingga kami menamainya Perca. Kami menduga Perca ini adalah anak dari Si Putih, karena Putih pun demikian, dominan Putih dengan sedikit aksen warna abu-abu kehitaman di kepala dan ekornya.

Kitten ketiga, berbulu persis plek plek dengan Dropi hanya lebih pendek dan ekornya terlipat. Saking miripnya dengan Dropi, akhirnya kami menamainya Dripdrip alias Dropi kecil, yang juga kami duga adalah anak dari Dropi. Kitten keempat, bicolor putih oranye (kembang asem), warna yang sama dengan Shower yang merupakan kakak dari Dropi dan Boxy, sehingga kami namai Phoenix, karena seolah Shower dilahirkan kembali, meskipun tanpa cerebal palsy-nya. Kami menduga Phoenix ini adalah anak dari Boxy karena wajah dan ekspresinya sangat mirip dengan Boxy. Dan kitten terakhir berwarna tortoise dominan hitam dengan bercak bulu berwarna putih di sekitar mulut dan kami beri nama Kushi, karena walaupun dia tortoise namun kalau dilihat sekilas dia tampak sangat hitam pekat. Kami duga Kushi adalah anak dari Bule. Hari-hari kami pun segera dipenuhi dan diwarnai oleh kelima kitten Lulu yang berwarna-warni ini, sehingga kelucuan dan kehebohan tidak pernah absen dari rumah kami.

Dropi, Milu, and some of their kittens.

Bulan-bulan terus berlalu, kelima colourful kitten Lulu terus bertumbuh. Namun di usia rawan pertama, yaitu di bawah 2 bulan, dua kitten Lulu, Perca dan Dripdrip tampak tidak begitu sehat. Mereka terserang pilek dan juga mata yang selalu berair, sehingga tubuhnya sangat kurus. Kami pun sering mengusir-ngusir 3 anak kucing lainnya yang sehat agar tidak nyusu terlalu lama dan memberi kesempatan kepada 2 saudaranya yang sakit. Pada bulan April hingga Juni 2018 banyak peristiwa yang terjadi dalam dunia perkucingan kami. Pertama Boxy tiba-tiba tidak pulang, kami tunggu dan kami cari di sekitar rumah, dia tidak ada di mana-mana, dan juga tidak pernah kembali lagi. And just like that, he’s just gone, just like Bolet, his brother.

Perca dan Dripdrip sewaktu kecil, tidak begitu sehat dan tubuhnya kecil.

Kedua, ada anak kucing telon bulu panjang yang tiba-tiba datang ke rumah kami. Dia seusia dengan anak-anaknya Lulu. Awalnya kami kira tubuhnya tertutup lumpur sawah yang sudah mengering, sehingga dia kami mandikan. Ternyata itu bukan lumpur yang mengering, tetapi scabies yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Anak kucing yang kemudian kami beri nama Lebu itu akhirnya tinggal bersama kami, dan hampir setiap hari kami mandikan dan kami beri salep untuk menyembuhkan scabiesnya. Lebu adalah anak kucing yang pendiam meskipun terlihat berusaha akrab dengan saudara-saudara angkatnya. Dia juga suka sekali berguling-guling di debu, itulah kenapa dia kami beri nama Lebu, mungkin dengan cara itu, rasa sakitnya bisa berkurang. Lulu pun terkadang mau membagi jatah menyusuinya untuk anak kucing terlantar kasihan ini.

Lebu dan Krimy, 2 anak kucing yang datang dan memilih kami sebagai manusianya.

Tidak hanya Lebu, ada lagi anak kucing satu lagi yang bergabung menjadi bagian dari keluarga kami. Krimy Latte, seekor anak kucing bicolor lincah berwarna coklat muda dan putih persis seperti creamy latte. Awalnya Krimy kami jumpai di masjid kampung ketika acara buka puasa bersama di kampung. 2 hari kemudian kami temukan anak kucing itu tengah berjalan ke arah timur sejauh 2 km dari masjid kami. Begitu melihat motor kami, Krimy langsung berbalik arah mengejar motor kami, and just like that, dia memilih kami untuk menjadi keluarganya. Cerita soal Krimy ini pernah aku ceritakan tersendiri dalam tulisan yang aku posting beberapa bulan yang lalu.

Kejadian penting (sekaligus menyesakkan) lainnya adalah Kushi tidak sengaja tertabrak mobil tetangga kami hingga meninggal. Aku menangis cukup lama karena syok. Sore itu, Kushi baru saja aku beri makan bersama saudara-saudaranya. Lalu mereka semua berlari keluar ke halaman untuk bermain. Karena kami hendak pergi, kami bermaksud memasukkan kucing-kucing kami ke dalam rumah. Kushi terlihat tergeletak di tanah. Aku kira dia sedang tiduran saja di tanah, karena biasa kucing-kucing kami bergulung tidur di tanah seperti itu. Ketika hendak aku gendong ternyata dia sudah tidak bergerak dan darah mengalir dari tubuhnya. Aku menangis shock.

Lebu pun juga tidak bertahan lama. Penyakit scabies-nya sudah terlalu parah sehingga sehabis lebaran, kata tetangga, Lebu sudah ditemukan meninggal di dekat sawah. Akhirnya pasca-lebaran 2018 kucing kami pun tinggal Dropi, Lulu, Milu, Perca, Dripdrip, Phoenix, dan Krimy, 3 jantan dan 4 betina. Namun syukurnya Dripdrip dan Perca yang sakit-sakitan bertahan melewati umur 2 bulan dan tubuhnya pun mulai menggendut. Sayangnya, Lebu yang akhirnya meninggal itu mewariskan penyakit scabies-nya ke anak-anak kucing kami, Perca yang paling parah, yang lain sih tidak begitu parah.

Kami sering mengajak anak-anak kucing tersebut untuk bermain di sawah yang mengering. Mereka senang sekali. Kami tinggal berjalan ke arah sawah saja dan mereka semua sudah langsung berlari mengikuti kami. Sesampainya di sawah, mereka berlarian sepuas-puasnya. Itu adalah aktivitas sore paling favorit aku dan suamiku, angon kucing di sawah-sawah yang mengering. Kecuali Phoenix! Awalnya Phoenix adalah anak kucing yang pemberani. Bahkan dia adalah yang pertama bisa naik ke atap rumah kami.

Bermain di sawah yang mengering menjadi aktivitas favorit kucing-kucing kami.

Tapi pada suatu hari dia tiduran terus dan tidak mau makan selama berhari-hari. Hingga puncaknya pada suatu malam dia kejang-kejang dan ketakutan. Setelah itu dia sempat lumpuh selama berhari-hari. Jalannya jadi onggong-onggong seperti Shower dulu yang kebetulan warna bulunya sama banget dengan Phoenix. Suamiku sampai bilang, jangan-jangan Phoenix kemasukan rohnya Shower, hehehe. Beberapa hari kemudian Phoenix sembuh dan kembali seperti semula, tapi dia mengalami perubahan karakter, yang tadinya lincah dan pemberani, menjadi penakut dan lebih banyak diam. Bahkan dia tidak berani kami ajak jalan-jalan ke sawah.

Pada Awal Agustus 2018, Lulu melahirkan lagi, 6 ekor bayi kucing. Kali ini kami yakin anaknya Dropi semua. Dari 6 kitten itu, 3 grey tabby seperti Dropi, 2 calico seperti Lulu, dan 1 bicolor putih-abu-abu seperti Perca. 3 grey tabby kami beri nama Bedbed, Katkat, dan Setset. 2 calico kami beri nama Metmet dan Deadpool, sementara 1 bicolor kami beri nama Capi, tapi karena dia mirip banget dengan Perca, ke sini-sini kami memanggilnya Percil alias Perca Kecil.

Bedbed, Katkat, Setset, Metmet, Deadpool, Percil.

Setset sejak lahir memang mengalami masalah, tubuhnya tidak berkembang, jadi dia hanya seperti tulang berbalut kulit saja, kecil sekali. Meskipun demikian—mungkin karena dia tahu hidupnya tidak akan lama—dia yang paling aktif. Di saat kelima saudaranya masih kruntelan di satu pojokan, Setset sudah jalan-jalan ke mana-mana dan mengeong-ngeong kecil, bahkan sudah berjalan-jalan di halaman belakang rumah, serta suka banget mengejar kakiku serta mengganggu kalau aku sedang menyapu lantai. Sekitar usia 1 bulan, Setset tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Di masa hidupnya yang hanya 1 bulan itu dia memanfaatkannya dengan baik untuk bermain dengan bahagia dan merasa dicintai.

Katkat the cat, yang paling sehat di antara generasi ketiga anak Lulu.

2 saudaranya yang lain juga tidak berkembang dengan semestinya, Metmet dan Bedbed, apalagi ditambah mereka juga terkena pilek parah. Sekitar usia 3 bulanan Metmet dan Bedbed pun tertidur dan tidak bangun lagi. Tinggalah Katkat, Percil, dan Deadpool atau lebih sering kami panggil Cipul. Setelah ketiga anaknya yang tersisa berhenti menyusu, Lulu pun kami steril agar bisa menikmati hari tuanya bersama anak-anaknya dan tentunya pacaran dengan Dropi tanpa perlu merasa khawatir akan hamil lagi, hehehe.

Pada waktu itu kami memiliki 10 ekor kucing di rumah kami yang kecil. Mereka sangat akrab, saling kruntelan dan berguling-gulingan bersama. Terutama Krimy, dia sangat sayang pada ketiga adik kecilnya Katkat, Percil, dan Cipul. Setiap hari ketiganya tidur di perut Krimy dan Krimy pun rajin menjilati mereka. Krimy adalah kucing jantan yang penyayang dan suka mengasuh kucing-kucing kecil. Karakter ke-10 kucing kami berbeda-beda, tetapi dalam satu hal, mereka terbagi menjadi 2 kelompok dengan kebiasaan yang sangat berbeda.

Krimy, kakak favorit adik-adik kucingnya.

Kelompok pertama adalah kucing-kucing yang sangat suka tempat tinggi, jadi mereka selalu naik ke atas atap, ke atas lemari, ke atas pohon atau ke tempat mana saja yang tinggi, sehingga kami menyebutnya kucing atap, yaitu Perca, Dripdrip, Milu, Katkat, Percil, dan Dropi. Sementara kucing-kucing sisanya sangat suka berdiam diri dan mengeksplorasi dunia bawah sehingga kami menyebutnya kucing tanah, yaitu Lulu, Krimy, Cipul, dan Phoenix. Awalnya Phoenix adalah kucing atap tapi setelah sakit yang aku ceritakan di tulisan sebelumnya dia menjadi kucing tanah.

Desember 2018, seorang kawan yang baik hati menawarkan untuk mengadopsi satu kucing kami, dan kemudian Percil pun kami antarkan ke rumahnya di Minomartani Sleman di mana kami yakin Percil akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan perhatian yang lebih banyak. Tidak disangka-sangka, Krimy kakak angkat yang sangat dekat dengannya marah pada kami karena telah membawa Percil pergi.

Selama lebih dari 2 minggu, Krimy tidak mau kami dekati atau kami gendong. Begitu kami mendekat dia selalu menghindar. Dia yang sebelumnya selalu suka nguleng-nguleng kami atau mengeong-ngeong di bawah kaki kami atau langsung lari mendekat ketika kami panggil namanya, jadi tidak mau sama sekali melakukan hal-hal itu. Dia sama sekali tidak mau mendekat ketika kami panggil, alih-alih mendatangi kami dengan sukarela. Ditambah wajahnya yang biasanya ceria menjadi murung dan selalu menatap kami dengan penuh kemarahan. Terlihat sekali dia marah adik kecilnya dibawa pergi. Bahkan puncaknya dia dengan sengaja pipis di tempat yang tidak seharusnya sebagai bentuk protesnya, bisa begitu ya, hehehe.

Sebulan kemudian baru dia perlahan-lahan mulai bisa memaafkan kami dan kembali mau kami uleng-uleng seperti sebelumnya. Badan Krimy ini besar sekali, jauh lebih besar dari semua saudaranya, bahkan lebih besar dari Dropi dan Lulu. Sepertinya memang dia keturunan dari jenis kucing yang bertubuh besar.

Pada musim kawin di akhir tahun 2018 itu juga Milu hamil, dan pada bulan Januari 2019, Milu melahirkan 2 ekor bayi kucing bicolor putih – oranye, namun hanya 1 yang bertahan, yang 1 lagi langsung meninggal begitu dilahirkan. Lucunya selama proses melahirkan ini Milu meminta Cipul adiknya menemaninya di sisinya, sejak awal hingga seluruh proses persalinannya selesai. Cerita tentang hal ini pernah aku tulis juga di tulisan yang lain dari kolom mini harian ini.

Milu, Cipul, dan Baby Busa. Cipul menunggui selama seluruh proses persalinan.

Mungkin karena tidak harus berbagi susu, bayi Milu yang tersisa yang kami beri nama Busa ini tumbuh dengan cepat dan gendut, lucu sekali. Baru usia 3 minggu saja Baby Busa sudah bisa berjalan-jalan ke mana-mana. Dengan adanya Busa, kembali kami memiliki 10 ekor kucing di rumah. Namun tidak disangka-sangka, selanjutnya terjadi tragedi yang sangat menyesakkan dada menimpa kucing-kucing kami. Yang terburuk yang pernah kami hadapi. Sungguh kami benar-benar tidak pernah membayangkannya sebelumnya.

Inilah tragedi paling besar dalam sejarah pengalaman kami bersama para kucing dalam hidup kami. Awal tahun yang biasa-biasa saja, namun karena aku lihat scabies Perca dan Krimy cukup parah, warisan dari Lebu dulu, aku memutuskan untuk membawa mereka ke klinik dekat rumah untuk mendapatkan suntikan scabies, sebanyak masing-masing 2 kali. Namun pada akhir Januari, beberapa hari setelah mendapatkan suntikan yang kedua, tiba-tiba Perca tidak mau makan. Karena sudah biasa kucing-kucing kami tidak mau makan untuk sementara tapi nantinya mau makan lagi, biasanya karena bosan dengan makanannya, jadi aku tidak terlalu menggubrisnya. Sampai kemudian aku menyadari sudah 2 hari Perca tidak mau makan. Aku mulai membelikannya makanan kesukaannya, ayam yang direbus, tapi dia tetap tidak mau makan.

Foto terakhir Perca yang aku ambil, sebelum tiba-tiba dia sakit.

Pada hari ketiga, dia kami bawa ke klinik karena tubuhnya sudah lemas. Karena klinik itu tidak melayani rawat inap, akhirnya dia kami bawa pulang lagi. Sore itu walaupun lemas dia masih seperti biasa, ngusel-ngusel kami dan masih bisa berlari-lari, serta naik ke atas kursi komputer untuk tidur di sana. Namun malamnya dia muntah-muntah parah dan tidak ada makanan yang bisa masuk ke tubuhnya meskipun sudah kami suapkan. Keesokan paginya, Perca sudah lemas sekali. Karena kebetulan hari itu tanggal merah, jadi jarang sekali ada pet clinic yang buka.

Lalu aku mencari informasi di internet, ada satu Vet dekat rumah yang buka praktik di rumahnya dan buka 24 jam. Akhirnya pagi-pagi dan sehabis hujan deras, kami membawa Perca ke rumah Vet tersebut. Sesampainya di sana, Vet mengatakan bahwa Perca terkena virus, dan dia mengindikasikan bahwa Perca tidak akan selamat, bahkan dia mengatakan bahwa virus itu akan cepat menyebar ke kucing-kucing kami yang lain. Tidak lupa, dia pun menambahkan contoh-contoh kasus serupa yang pada akhirnya kucingnya akan banyak yang mati. Ya aku tahu sih, mungkin apa yang dikatakannya itu benar, dan dia mengatakan itu based on his long experiences, but still, it’s not something nice to say, isn’t it?

Kami pun tidak menyerah, karena Vet itu sudah pesimis dan tidak mau merawat Perca, kami mencari pet clinic yang lain, dan akhirnya menemukannya. Perca kami tinggal di klinik tersebut untuk dirawat inap. Namun selang beberapa jam kemudian, aku mendapatkan Whatsapp yang mengabarkan kalau Perca sudah tidak ada. Rasanya kami sedih sekali dan kecewa, padahal baru kemarin dia masih minta pangku aku dan tidak mau turun. Setelah menguburkan Perca, kami pun segera membersihkan rumah kami dengan Wipol. Selain itu, aku juga ke petshop untuk membeli segala macam vitamin dan nutrisi untuk kucing, termasuk membeli imboost for kid di apotek. Semua kucing di rumah, kami boosting dengan vitamin dan nutrisi tersebut.

Milu dan Baby Busa, masih sehat-sehatnya.

Tapi beberapa hari kemudian, setelah paginya melindungi rumah kami dari seekor ular kecil yang masuk ke halaman, sore harinya Krimy lemas dan tidak mau makan. Dan walaupun Krimy adalah kucing yang bertubuh besar, virus jahat ini cepat sekali menggerogoti tubuhnya. Padahal pada pagi hari setelah Krimy menangkap ular yang masuk ke halaman rumah kami tersebut, Baby Busa sudah duluan meninggalkan dunia ini di pelukan Milu, maminya, juga karena terserang virus yang sama, dan karena dia masih bayi, hanya butuh beberapa jam saja bagi virus itu untuk membunuhnya. Keesokan harinya, Krimy sudah tergeletak sangat lemas.

Pada hari itu juga Cipul yang paginya masih lari-lari mengejar makanan, tiba-tiba siang harinya sudah lemas dan tidak mau makan. Akhirnya Cipul meninggal pada malam hari di hari yang sama, virus jahat itu membunuh Cipul dalam waktu kurang dari 24 jam. Dan keesokan paginya, Krimy pun menyusul, hanya 2 hari setelah dia terkena virus jahat tersebut. Setelah kami menguburkan Krimy, Dripdrip dan Katkat pun sudah tidak mau makan dan terlihat sangat lemas. Kami segera melarikan keduanya ke pet clinic.

Krimy, Perca, dan Cipul berebutan tidur di dalam satu besek.

Namun tahu tidak, pada saat itu, sangat susah mendapatkan pet clinic yang bisa menerima pasien rawat inap di Bantul, dikarenakan hampir semuanya penuh pasien dengan gejala penyakit yang sama. Vet mengatakan di Bantul memang sedang mewabah virus tersebut, virus Panleukopenia, virus yang sama yang menyerang Boxy 3 tahun yang lalu. Vet juga mengatakan kasusnya banyak sekali. Itulah kenapa hampir semua pet clinic di Bantul penuh layanan rawat inapnya.

Namun akhirnya kami mendapatkan pet clinic yang masih mau menampung kucing kami. Dripdrip harus dirawat inap, namun Katkat masih bisa rawat jalan karena virusnya belum terlalu parah menyerang tubuhnya. Dripdrip pun kami tinggal untuk dirawat inap, sementara Katkat kami bawa pulang, kami suapi dan kami berikan obat dan vitamin setiap hari.

Keesokan harinya, Vet mengirim pesan melalui WhatsApp mengabarkan bahwa Dripdrip tidak bertahan. Kami sedih sekali. Berarti sudah 5 kucing kami yang mati hanya dalam waktu 5 hari. Sementara itu di rumah, Milu pun terserang virus yang sama, tidak mau makan, tubuhnya lemas, dan mulutnya berliur. Milu pun kami bawa ke pet clinic yang sama, sambil kami mengambil Dripdrip yang sudah tidak bernyawa lagi. Jadi Milu menggantikan posisi rawat inap Dripdrip.

Katkat fought his way back to life!

Di rumah kucing yang tersisa Phoenix, Lulu, Dropi, dan Katkat kami boosting dengan vitamin. Rumah pun kami pel setiap hari, kali ini dengan menggunakan Bayclean. Katkat kondisinya naik turun, kadang dia mudah kami suapi, tapi sempat juga sangat ngedrop dan mulutnya berliur serta sangat lemas. Namun syukurnya, setelah ngedrop selama 2 hari, kondisi Katkat mulai berangsur-angsur membaik. He fought his way back to life! And remember, what doesn’t kill you, make you stronger!

Demikian juga dengan Milu, setelah 5 hari dirawat inap, Vet mengatakan kami bisa mengambil Milu. Tadinya kami kira, walaupun sudah boleh rawat jalan, kondisi Milu masih lemas. Tapi ternyata tidak, Milu sudah sembuh! Dia sudah sehat dan cantik seperti sebelumnya. Begitu kami datang, Milu langsung mengenali kami, dia langsung mengguling di kaki kami minta dielus-elus.

Sesampainya di rumah, Milu heboh sekali melihat kembali rumahnya. Dia berlarian ke sana ke mari mengecek setiap ruangan dan setiap sudut. Dia tampak sangat senang sekali kembali ke rumah. Sepertinya dia ketakutan dan kesepian 5 hari tinggal di klinik tanpa kami dan tanpa saudara-saudaranya. Phoenix pun tidak kalah senang melihat Milu kembali. Sejak kecil memang Phoenix yang paling sayang dengan si cantik Milu. Begitu melihat Milu kembali, Phoenix pun tidak henti-hentinya menjilat-jilati Milu serta mengikutinya ke mana saja.

Akhirnya, dari 10 kucing kami, 5 bertahan dan 5 tidak bertahan dari serangan mematikan virus Panleukopenia. Sekadar informasi, panleukopenia adalah virus yang menyerang sel darah putih kucing. Namun hanya khusus menyerang kucing dan berang-berang dan tidak akan bisa menyerang manusia ataupun binatang lain, bahkan anjing. Namun memang virus ini menular dengan cepat sekali di antara para kucing, dan berang-berang (kalau mereka ada di kampung).

Setelah badai berlalu, Lulu, Milu, dan Phoenix bersantai di atas lincak di halaman belakang.

Dan sepertinya tidak hanya kucing-kucing kami saja yang tidak bertahan dengan serangan wabah virus tersebut. Di kampung kami, yang biasanya setiap kami keluar rumah, banyak sekali kucing berkeliaran, di masjid, di teras-teras rumah, di jalan, di mana-mana. Saat itu tiba-tiba kami menjadi jarang sekali melihat kucing yang biasanya berkeliaran. Tiba-tiba kampung kami jadi sepi kucing.

Anyway, kelima kucing kami yang bertahan pun—Dropi, Lulu, Phoenix, Milu, dan Katkat—kembali sehat, banyak makan, dan ceria lagi. Semua kembali seperti semula. Mereka kembali menghiasi rumah kami dengan segala kehebohannya, seolah-olah dua minggu yang mencekam dan mengerikan kemarin tidak pernah terjadi. Kami memanggil mereka untuk makan, menyuruh mereka berjemur, dan melihat mereka berkejar-kejaran. Mereka ngusel-ngusel kami, mengguling di kaki kami, dan membangunkan kami di pagi hari. Just like before, like nothing ever happen! Namun tentu saja, kami tetap menyimpan Perca, Busa, Krimy, Cipul, dan Dripdrip, serta kucing-kucing sebelumnya di hati dan di ingatan kami. All the cats we loved before.

Dropi sekarang berusia 3,5 tahun dan masih selalu manja.

Kadang aku masih sering sangat kangen. Apalagi kalau sedang punya makanan yang disukai salah satu dari mereka, atau ketika sedang dalam situasi yang aku tahu kalau mereka masih ada mereka akan melakukan apa. Misalnya ketika makan roti aku ingat Dripdrip, karena dia sangat suka makan roti. Ketika sedang duduk-duduk di teras aku ingat Krimy, karena biasanya dia akan langsung menubruk dengan badannya yang besar itu. Ketika sedang menulis di laptop aku ingat Cipul, karena biasanya dia akan selalu duduk di pangkuanku dan tidak mau dipindah. Dan ketika melihat sawah aku ingat Perca, karena dia suka sekali berlarian di sawah yang tengah mengering. Tapi ya aku tahu mereka sudah jauh lebih berbahagia sekarang. Yang pasti, aku akan selalu menyimpan cintaku terhadap mereka dan juga kucing-kucingku sebelumnya, rapat-rapat dan aman di hati dan ingatanku. To all the cats I loved before!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *