Tongseng Ayam Sudimoro: Kuliner Enak di Pasar Bantul yang Sudah Ada Sejak Tahun 1965

Kayaknya kalau orang Bantul, asli maupun pendatang, ataupun orang yang sering ke Bantul atau tahu tentang Bantul, pasti tahu betul dengan kuliner yang satu ini, yes, tongseng ayam Sudimoro yang nikmat dan khas serta tidak ada duanya. Warungnya terletak di kompleks pasar Bantul, walaupun masih di pinggir jalan rayanya, tepatnya depan pasar Bantul agak ke selatan sedikit, hehehe. Sebenarnya tongseng ayam Sudimoro ini sudah membuka 2 cabang, dan dua-duanya di Bantul juga, cabang yang satu hanya 1 km ke arah utara, tepatnya sebelum pertigaan lampu merah Cepit, dan cabang satunya lagi, kata temanku (karena aku belum pernah nyobain), hanya 1 km juga jauhnya tapi ke arah timurnya, hehehe, lucu ya, ada cabang, tapi dekat-dekat semua.

Meskipun demikian, adanya cabang tersebut merupakan a very good idea karena bisa mengurangi ramainya warung ini terutama di jam-jam sarapan dan jam-jam makan siang. Aku tidak tahu sih pastinya warung ini buka jam berapa, tadi aku pernah ke sana jam setengah tujuh pagi dan sudah buka, let’s just say warung ini buka jam 6 pagi ya. Dan widih dari sejak jam 6 sampai jam 8an disambung lagi dari sejak jam 11 sampai jam 1an, warung ini ramai sekali. Rasa-rasanya semua orang ingin menikmati lezatnya tongseng ayam panas-panas ditambah teh melati yang pekat plus tempe koro bacem yang nikmat tak terlupakan itu. Kalau tutupnya sih siang sekitar jam 2an atau jam 3an, tergantung habisnya si daging ayam.

Kalau biasanya bumbu tongseng digunakan untuk memasak daging kambing, lain dengan warung ini, yang ditongseng adalah daging ayam kampung. Bahkan tidak hanya ayam kampung semabarang ayam kampung, ayam kampung yang ditongseng di sini khusus hanya ayam kampung pejantan saja alias ayam jago. Mungkin hal itulah yang membuat potongan daging ayamnya besar, tebal, dan khas. Ditambah lagi menu ini selalu dihadirkan dengan dimasak dadakan sehingga kita akan selalu mendapatkan tongseng yang hangat dan fresh ditambah irisan daun kubis mentah, hmm, dan tinggal pilih saja mau ditambahi irisan cabai rawit merah atau tidak.

Minuman yang cocok mendampingi tongseng ayam super lezat ini apalagi kalau bukan teh tubruk panas gula batu. Penjualnya akan menyajikan teh tubruk panas dalam gelas, gula batu terpisah, serta tidak lupa cem-ceman teh dalam cangkir logam enamel sebagai jok-jokan alias isi ulangnya, hmm. Sebagai snack, warung ini menyediakan tempe bacem, tapi tempenya bukan sembarang tempe. Tempenya adalah tempe koro yang bijinya besar-besar. Tempe koro ini mirip tempe kedelai biasa tetapi berbeda, ada rasa-rasa khas biji koro-nya dan teksturnya pun lebih kasar. Tempe koro yang dibacem manis ini bisa kita nikmati panas-panas sambil “nyeplus” lombok rawit hijau segar, hmmm, kenikmatan duniawi mana lagi sih yang akan kau ingkari, hahaha.

Warung tongseng ayam Sudimoro ini konon sudah buka sejak tahun 1965, jadi jauh sebelum kamu, kamu, dan kamu dilahirkan, warung ini sudah ada. Pada zaman “susah” dulu (padahal ga tau juga aku susah atau engga, hehehe), tongseng ayam ini sudah hadir memberikan sedikit kenikmatan dan rekreasi di tengah-tengah perjuangan warga Bantul menghadapi pergolakan zaman, alaaah. Sekarang sih sudah dilanjutkan oleh generasi kedua alias anak perempuan dari pemilik warung, dan masih tetap mempertahankan konsep warung makan tradisional dan merakyatnya. Sebagian besar pegawai di warung ini perempuan, baik yang masak maupun yang melayani, dan yang aku suka, mereka selalu bekerja sambil mengobrol dan bercanda penuh sukacita. Sepertinya ibu-ibu dan mbak-mbak itu tahu, sukacita dan kehangatan itu menular, baik lewat makanan dan minuman nikmat yang disajikan, maupun lewat suara tertawa dan candaan hangat mereka yang renyah. So what are you waiting for, segeralah pergi ke Bantul, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *