TOPIK (tak hanya) SEMALAM

Semalam
Kau tanyakan lagi arah kita
Sanggupkah aku mengikatmu
Untuk selamanya

Kau jangan takut
(jangan takut)
Aku punya rencana
Kau jangan takut
Walau semua masih ada di kepala

Jika kau mau bersabar dan mencoba mengerti
Kupastikan engkau bahagia
Jika kau bisa bertahan menungguku di sini
Kupastikan engkau bahagia

Tapi tunggu dulu
(tapi tunggu dulu)
Kurangkai dengan waktu
Kusemai harapanmu
Sebelum kutemui
Ayahmu
Ibumu

Hayo siapa yang familiar dengan lagu ini? Atau merasa lagu ini relatable karena ih gue banget! (Ketahuan banget anak tahun 90an yang terindoktrinasi MTV.) Bagi yang belum tahu, atau, sudah tahu, bisa mencermati lagi lirik ini, dan lebih afdol lagi, video klipnya di sini [NR1].

Sebetulnya sudah agak terlambat untuk me-review atau mengomentari lagu ini yang sudah rilis beberapa bulan lalu. Tapi, tidak seperti judulnya, saya rasa inti dari lagu ini adalah topik sepanjang masa. Apalagi bagi kalian-kalian yang sedang menghadapi quarter life crisis (biar kelihatan kekinian haha). Topik yang tak lekang sepanjang masa adalah, yah gimana lagi sudah sangat mudah ditebak jadi gak bisa main tebak-tebakan, atau, didramatisir pake jreng jreng jreng kek pengumuman eliminasi di ajang pencarian bakat, “pernikahan”.

Jadi, ini adalah interpretasi saya terhadap lagu tersebut, dan, video klipnya. Ini interpretasi saya ya yang bisa jadi beda dengan yang dimaksudkan Kunto Aji sebagai penulisnya. Namun, itulah kerennya musik yang sangat terbuka terhadap beragamnya interpretasi, kadang lebih dangkal atau lebih dalam dari yang dimaksud penulisnya. Bisa jadi kalian setuju atau tidak tapi karena ini tulisan saya, jadi suka-suka saya ya. Kalau nggak suka juga boleh tapi bikin tulisan sendiri. Jadi tulisan dibalas tulisan, ide dibalas ide, cinta dibalas cinta. Dan mari berdialog. Hehehehe.

Bagi saya, lagu ini dan video klipnya mencerminkan bagaimana topik pernikahan seringkali dibicarakan dengan frekuensi yang berbeda oleh pasangan. Kalau di lagu ini, si perempuan tampaknya sedang bertanya pada si laki-laki untuk sebuah kepastian. Sementara itu, si laki-laki sedang merasa diburu-buru untuk sesuatu yang masih dalam perencanaannya. Kalau mencermati video klipnya akan semakin tampak perbedaan dinamika psikologis keduanya. Si perempuan digambarkan dalam suatu kemarahan yang membuatnya berperilaku agresif pada si laki-laki. Si laki-laki digambarkan merasa terperangkap dengan “tuntutan” si perempuan.


Saya tidak akan mengkritik lagu ini karena bagaimanapun lagu adalah ekspresi dari yang punya. Mungkin memang inilah pengalaman personal Kunto Aji atau orang di sekitar Kunto Aji. Saya justru berterima kasih ke Kunto Aji karena menciptakan lagu ini yang bisa menjadi jembatan bagi saya untuk menyampaikan kritik saya terhadap bagaimana nilai di masyarakat membentuk cara laki-laki dan perempuan dalam memandang pernikahan. Berikut adalah kritik yang ingin saya sampaikan, yaitu, bisa nih pake, jreng, jreng, jreng:

Apakah pertanyaan kapan kita menikah adalah pertanyaan yang cukup untuk mengukur tingkat keseriusan pasangan kita?

Saya pernah mendapatkan beberapa curhatan dari teman perempuan bahwa ia sebel sendiri dengan kelakuan pasangannya yang selalu menghindar atau jadi berubah bete ketika ia bertanya “kamu rencana nikahin aku kapan”. Persis lah kayak curhatan di lagu itu. Kepada salah satu teman, kami terlibat pembicaraan yang cukup panjang kali dalam terkait hal tersebut. Saya bertanya sudah sejak kapan dia mulai menanyakan hal itu ke pasangannya? Sudah berapa kali? Bagaimana respon pasangannya setiap kali ia menanyakan hal tersebut? Kepastian apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan atau apa jawaban yang ia inginkan dari pertanyaan itu? Jawabannya tidak terlalu mencengangkan sih: sudah setahunan sih, berkali-kali tidak bisa dihitung, biasanya bikin suasananya kurang nyaman, ya biar aku tahu dia serius beneran nggak sama aku. Lalu, pertanyaan berikutnya, tercapai nggak sih tujuanmu untuk mengetahui keseriusan dia? Ya nggak juga! Wong malah dapat ambekan dan tidak ada penjelasan.

Mungkin reaksi bungkam dari pasangan teman saya itu mirip dengan si laki-laki dalam lagu itu: sudahlah jangan takut, aku sudah punya rencana meski masih di kepala. Pertanyaan saya selanjutnya adalah kenapa nggak bilang aja ya rencananya apa? Karena ngomongin tentang perencanaan adalah obrolan terhakiki tentang keseriusan. Bukan tentang sekadar rencana kapan resepsi. Namun, rencana kalian berdua tentang keluarga seperti apa yang akan dibangun.

Jangan hanya berhenti pada kata baik/bahagia atau sakinah mawaddah warohmah. Pertama, baik/bahagia menurutku belum tentu baik/bahagia menurutmu sehingga definisikan baik/bahagia itu sekonkret mungkin. Kedua, sakinah mawaddah warohmah itu sebetulnya visi misi yang jelas tentang pernikahan, tapi saking populernya kata-kata ini seringkali diucapkan tanpa dipahami betul apa maknanya sehingga diskusikan lagi apa yang kalian maksud dengan sakinah mawaddah dan warohmah? Lalu, rencana tentang bagaimana mengelola pekerjaan untuk keberlangsungan rumah tangga, baik kerja di ranah publik yang menghasilkan uang atau kerja di ranah domestik yang menghasilkan kenyamanan. Diskusikan juga rencana tentang persiapan apa yang diperlukan untuk mempunyai anak, rencana pengasuhannya, dan rencana pendidikannya. Masih banyak lagi sih yang bisa ditanyakan dan didiskusikan bersama untuk melihat seberapa masing-masing serius untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan. Misal lagi nih ya, bagaimana nanti rencana penyelesaian masalah ketika menghadapi konflik yang pasti terjadi di rumah tangga, bagaimana rencana menjalin komunikasi dengan mertua dan keluarga besar pasangan, bagaimana nanti usaha yang akan dilakukan untuk perlahan-lahan berproses menjadi keluarga yang mandiri, dan sebagainya bisa di-list sendiri berdasarkan kebutuhan masing-masing. Dan juga bisa dilihat nih, apakah kalian punya prioritas kebutuhan yang sama atau berbeda dan bagaimana titik komprominya.

Diskusi seperti ini penting untuk mengukur keseriusan masing-masing, seberapa kompatibel kalian berdua dalam mengurangi atmosfer tidak nyaman yang tidak perlu, serta membangun quality time dan iklim ngobrol hangat di antara kalian berdua. Nanti kalau sudah semakin mantap, ketakutan si perempuan akan ketidakseriusan si laki-laki semakin terkikis dan ketakutan si laki-laki dalam mengungkapkan rencananya juga semakin terkikis. Karena sebetulnya keseriusan dan perencanaan itu kan kebutuhan keduanya, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, ada dinamika sosio-psikologis antara laki-laki dan perempuan kenapa yang satu cenderung menitikberatkan pada satu hal, dan sebaliknya. Analisis ini bukan untuk menyalahkan masing-masing pihak, bukan, dunia sudah terlalu gegap gempita dengan salah-menyalahkan. Namun, ini adalah ajakan untuk memahami sudut pandang masing-masing dan berempati as if I am in his/her shoes. Bukankah empati masih langka di dunia ini? Jadi, mari semarakkan J

Perempuan lebih terobsesi dengan seberapa serius laki-laki ini untuk menikahinya, tidak lain tidak bukan merupakan hasil dari bagaimana masyarakat meletakkan nilai keutamaan perempuan pada pernikahan. Nilai masyarakat ini kemudian diinternalisasikan secara sadar atau lebih seringnya sih secara tidak sadar oleh perempuan. Nasihat sejak kecil untuk belajar berbagai pekerjaan domestik untuk membahagiakan suami secara tidak disadari menyiratkan nilai perempuan terletak pada kebahagiaan suami. Istilah perawan tua juga membuat perempuan takut “terlambat” menikah. Atau adanya candaan di antara anak muda untuk apa pendidikan tinggi tapi kalau belum menikah maka perempuan belumlah lengkap. Atau saya ingat pernyataan teman saya dulu, bahwa ia takut semakin ia berpendidikan tinggi akan semakin sedikit laki-laki yang mau atau merasa percaya diri untuk meminangnya. Bahkan akhir-akhir ini, saya pernah dikasih lihat teman sebuah screenshot berisi kutipan kajian agama tertentu bahwa kesalahan perempuan zaman sekarang adalah lebih mengutamakan pendidikan daripada pernikahan. Bayangkanlah seperti apa tekanan batin yang dirasakan perempuan ketika sudah berpacaran lama tapi tak pernah ada kata-kata pernikahan, padahal usia tidak pernah bisa di-pause kayak nonton film bajakan di laptop, dan predikat “perawan tua” semakin membayang. Belum lagi ada nasihat terus-menerus dari orangtua yang ingin anak perempuannya segera “mentas” dengan menikah. Saya punya cerita personal yang ingin saya bagikan di tulisan lain berkaitan dengan ini. Atau tentang bahwa ada juga perempuan yang mulai menyadari proses internalisasi dalam dirinya dan memilih untuk membebaskan diri dari nilai ini, yang akan saya ceritakan juga di tulisan lain.

Sekarang, lanjut yuk memahami sudut pandang laki-laki yang dibentuk oleh nilai sosial di masyarakat kita.

Laki-laki ketika membicarakan tentang pernikahan adalah berbicara tentang kapabilitasnya dalam bertanggung jawab pada keluarga. Oleh sebab itu, lirik di lagu ini adalah, “Aku punya rencana, kau jangan takut, walau semua masih ada di kepala,” dan di bait lainnya adalah, “Jika kau mau bersabar dan mencoba mengerti, kupastikan engkau bahagia”. Saya menangkap bahwa laki-laki sebetulnya memiliki keseriusan dengan mulai merencanakan berbagai hal, tapi sayangnya kenapa hanya ada di kepala? Jawaban saya berlanjut di bait selanjutnya bahwa dalam kerangka pikir laki-laki, kebahagiaan istri dan anak itu berada di tangannya.

Hal ini merupakan hasil dari proses internalisasi nilai masyarakat bahwa laki-laki adalah kepala rumah tangga. Berimplikasi pula pada pandangan laki-laki sebagai si pemimpin. Sayangnya, ketika kita menggunakan kata pemimpin, pikiran kita tidak segera terasosiasikan bahwa ada berbagai macam tipe pemimpin: otoriter, demokratis, permisif? Eh ini tipe pemimpin apa pengasuhan ya? Wkwkwk lupa saya. Persoalannya terletak ketika pemimpin ini diartikan sebagai si perencana, si pembuat keputusan, dan di pelaksana keputusan yang berpusat pada laki-laki saja. Dan ketika rencana ini tidak berjalan mulus, maka tanggung jawab ada pada diri laki-laki. Oleh sebab itu, ketika laki-laki merencanakan sesuatu, maka secara tidak langsung harga dirilah yang sedang dipertaruhkan.

Padahal sesungguhnya keberhasilan rumah tangga itu butuh kerja sama dua belah pihak. Kebahagiaan rumah tangga juga harus diusahakan dua belah pihak. Tapi kebahagiaan pribadi (si laki-laki atau si perempuan) adalah tanggung jawab pribadi masing-masing pihak. Konsep kebahagiaan ini akan saya ceritakan di tulisan lain ya. Hehehe. Oleh sebab itu, persoalan lain juga timbul ketika di lirik tersebut disebutkan bila si perempuan mau mencoba mengerti: bagaimana bisa mengerti bila hanya ada di kepala si laki-laki? Saya kira akan lebih mudah untuk mengerti kalau si perempuan diberi ruang untuk mengetahui dulu apa rencana yang ada di kepala si laki-laki dan berdiskusi untuk bekerja sama. Sayangnya saya belum punya cerita konkret di sekitar saya tentang laki-laki yang bisa membebaskan diri dari internalisasi nilai ini, jadi mungkin membutuhkan orang lain untuk membuat tulisan tentang ini.

Hanya saja, saya punya sekelumit cerita tentang bagaimana si laki-laki dan si perempuan dapat bekerja sama membebaskan diri dari nilai-nilai di atas. Saya ingat salah satu teman saya yang lain bercerita bahwa ketika dia mulai menanyakan pada pasangannya kapan mereka akan menikah, pasangannya kemudian mengajaknya berdiskusi bahwa sebelum menjawab tentang kapan, mereka berdua perlu menjawab dulu tentang apa yang mereka rencanakan terkait pernikahan. Teman saya pun tersadar bahwa ya pernikahan tidak sesederhana tentang kapan tapi juga bagaimana. Dan keduanya pun banyak mendiskusikan hal tersebut, hingga saat ini sepertinya mereka sudah saling mantap terkait bagaimana mereka akan menjalani pernikahan mereka dan mulai mengarah pada merencanakan kapan pernikahan tersebut akan dihelat. Indah sekali kan dunia kalau keduanya bisa membangun relasi sehat dengan semangat saling mendengarkan, memahami, dan berkompromi? Dan tidak lagi terbelenggu oleh nilai sosial yang sebetulnya tidak masuk akal tapi malah terinternalisasi jadi nilai personal dan mempengaruhi relasi interpersonalnya dengan pasangan.

Jadi, mungkin besok-besok ada musisi yang membuat lagu tentang topik yang tak hanya semalam ini, bahwa ada banyak hal yang perlu dibicarakan tentang pernikahan. Atau malah Kunto Aji akan membuat lagu lanjutan dari Topik Semalam? Seperti halnya Kunto Aji membuat lagu “Mercusuar” sebagai lanjutan dari “Terlalu Lama Sendiri.” Ini mah ngarepnya keterlaluan yak wkwkwk.

Novia Dwi R.

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.
Bagikan:

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *