Tradisi Rasulan di Desa Ngalang Gunungkidul: Upacara Bersih Desa Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Kepada Tuhan Atas Nikmat Yang Diberikan Kepada Seluruh Warga Desa

Tradisi rasulan atau upacara bersih desa ini sebenarnya dilakukan di banyak desa di Kabupaten Gunungkidul, tapi pengalaman pandangan mataku mungkin hanya khusus rasulan di Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul saja. Selain karena konon kabarnya ini adalah rasulan paling asoy yang pernah ada, namun sebenarnya lebih kepada karena aku secara pribadi memiliki keterlibatan emosional yang khusus dengan Desa Ngalang, mengingat pekerjaanku dahulu banyak mengharuskan aku berinteraksi dengan bapak, ibu, maupun remaja di Desa Ngalang.

Sudah bertahun-tahun aku ingin menghadiri acara rasulan di Desa Ngalang, tapi baru benar-benar terlaksana tahun ini, yaitu pada tanggal 1 Juli kemarin. Rasulan diadakan setiap tahun setelah masa panen kedua selesai, biasanya memang di pertengahan tahun. Yang aku lihat, bagi warga Desa Ngalang, rasulan ini adalah acara pesta dan perayaan besar-besaran yang dirayakan semua orang, bahkan Desa Ngalang ini lebih ramai ketika rasulan dibandingkan ketika lebaran, di mana semua rumah menyediakan makanan dan camilan enak-enak untuk para tamunya.

Kirab memamerkan segala hasil bumi Desa Ngalang.

Hampir seluruh warga desa terlibat aktif pada persiapan maupun penyelenggaraan acara rasulan yang puncaknya diadakan di Gubug Gede kawasan rest area Desa Ngalang. Sejak pagi aku dan temanku sudah berangkat dari Jogja demi tidak mau ketinggalan acara pesta rakyat super meriah ini. Begitu masuk kawasan Desa Ngalang, motor langsung kami parkir saja di pinggir jalan dekat pertigaan Plosodoyong karena ternyata kirab budaya telah dimulai. Setiap dusun mempersembahkan rombongan kirab yang berjalan dari Balai Desa Ngalang hingga kawasan Gubug Gede, cukup jauh sih, mungkin sekitar 4 atau 5 km kalau perkiraanku tidak salah. Dalam kirab ini warga mengenakan berbagai macam kostum yang menarik, membawa berbagai macam jenis dan bentuk gunungan, ada yang menyanyi, menari, menampilkan berbagai kesenian lokal, dan membawa serta memamerkan seluruh hasil bumi yang dianugerahkan Tuhan kepada warga desa Ngalang.

Bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja membawa atau menaruh dalam gendongan untaian padi, ketela, kacang, sayur-sayuran, serta buah-buahan, terutama pisang (gedang) sebagai komoditas lokal desa yang terletak di Kecamatan Gedangsari ini (jadi kita tahu ya, dari mana nama kecamatan itu berasal). Mereka mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah dan nikmat berlimpah yang selama ini telah dianugerahkan-Nya kepada Desa Ngalang. Menurutku acara kirab itu sangat syahdu dengan iringan suara gamelan dan ekspresi warga yang bersuka cita benar-benar membuat aku tidak tahan untuk meneteskan air mata terharu.

Kirab juga menampilan hasil cipta seni dan budaya dari Desa Ngalang.

Kirab berakhir di Gubug Gede di kawasan rest area Desa Ngalang. Di sana kita bisa lihat betapa lapangan besar yang terletak persis di depan Gubung Gede itu sudah sangat penuh dengan parkiran kendaraan mobil dan motor. Aku belum pernah melihat mobil dan motor sebanyak itu parkir di Desa Ngalang, menunjukkan animo masyarakat yang sangat tinggi untuk berpartisipasi dalam acara ini. Dari sejak parkiran menuju pendopo Gubug Gede, beraneka ragam makanan, minuman, dan jajanan berlimpah dijajakan oleh para pedagang memenuhi kawasan ini. Dari mulai makanan berat hingga makanan ringan, dari hidangan tradisional sampai hidangan kekinian yang sedang viral, semuanya ada di situ. Juga berbagai pedagang yang menjajakan cendera mata, alat keperluan rumah tangga, dan mainan anak, ramai sekali.

Sesampainya di pendopo Gubug Gede, seluruh perangkat Desa Ngalang, para tamu undangan dari pemerintah kabupaten, serta ibu-ibu yang selama ini bersama kami aktif dalam Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (FPK2PA) Desa Ngalang sudah menunggu di sana dengan pakaian tradisional dan dandanan yang benar-benar membuat kami pangling karena semua terlihat sangat cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan senangnya, karena kami sudah sangat kenal dengan akrab dengan ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, maupun para perangkat Desa Ngalang ini, jadi begitu bertemu langsung heboh mengobrol dan berfoto bersama, seru sekali.

Ibu-ibu Desa Ngalang menyiapkan makanan untuk dimakan bersama di acara Rasulan.

Pada acara puncak di Gubug Gede ini, setelah beberapa sambutan, ada beberapa pementasan kesenian tradisional yang semuanya dilakukan oleh warga Desa Ngalang, termasuk para pemain gamelannya adalah ibu-ibu dari Desa Ngalang. Ada juga pertunjukan semacam mini fragmen yang dilakukan oleh Bu Lurah dan seorang anak kecil yang menggambarkan asal mula dulu dilakukan tradisi rasulan ini. Acara dilanjutkan dengan ritual memperebutkan gunungan-gunungan yang tadi sudah diarak dalam kirab. Dipercaya jika kita bisa mendapatkan bahan makanan yang disajikan dalam gunungan-gunungan itu, kita akan mendapatkan berkah yang berlimpah.

Selanjutnya acara puncak yang seperti memindahkan sepotong surga ke Desa Ngalang, yak benar, acara makan bersama dengan menu makanan-makanan tradisional khas Desa Ngalang yang dimasak sendiri oleh ibu-ibu Desa Ngalang dengan penuh cinta, seperti ingkung ayam, berbagai jenis oseng-oseng dan sambal goreng, kerupuk, sambal bawang, dan lain-lain yang kita makan bersama dengan alas daun pisang dan menggunakan tangan. Bisa dibayangkan kan, makanannya saja sudah enak, ditambah dimakannya bersama-sama di tengah-tengah pesta rakyat, jadi berlipat-lipat deh enaknya. Sungguh kenikmatan surga dunia yang hakiki, hahaha.

Ngibing, berjoget sambil berdoa.

Setelah acara makan bersama, selanjutnya ada acara ngibing, yaitu berjoget sambil mendoakan agar harapan atau apa yang tengah diinginkan bisa terwujud, mungkin karena sambil didoakan banyak orang ya, ketika yang bersangkutan berjoget di depan panggung. Untuk acara ngibing ini, orang-orang yang memiliki keinginan/doa khusus sepertinya sudah mendaftarkan diri kepada panitia untuk bisa berjoget di panggung dan mendapatkan doa dari semua yang hadir. Terlihat sangat unik dan mengharukan, ada sepasang suami-istri sambil menggendong anak bayinya, ada nenek-nenek yang terlihat sudah sangat sepuh sampai naik ke panggungnya harus dibantu, ada keluarga yang sengaja datang dari jauh, dan seterusnya. Meskipun kita tidak tahu ya apa doa khusus yang dipanjatkan oleh masing-masing orang yang berjoget di panggung itu.

Berfoto bersama Pak Lurah dan Bu Lurah Desa Ngalang di akhir acara.

Setelah acara berakhir, kami pun masih dibungkusin makanan dan oleh-oleh untuk dibawa pulang, dan ketika kami mampir untuk beristirahat sebentar di rumah beberapa warga, kami tambah mendapatkan bungkusan oleh-oleh lainnya untuk dibawa pulang. Padahal acara mampir itu bukan modus ya, hehehe. Perut kenyang, hati senang, buah tangan terpegang, sungguh sebuah pesta rakyat penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang tiada duanya.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *