Tubuh-Tubuh Dangdut di Panggung Artjog MMXIX

Minggu malam kemarin setelah mudik hari raya ke Magelang, aku dan suamiku memutuskan untuk memenuhi undangan teman kami agar dari Magelang tidak langsung pulang ke rumah di Bantul tapi mampir dulu di Jogja National Museum di daerah Wirobrajan Yogyakarta untuk menyaksikan salah satu pertunjukan yang digelar oleh ArtJog MMXIX yang sudah berlangsung sejak tanggal 25 Juli hingga 25 Agustus 2019 nanti. Pertunjukan malam itu adalah Dangdutan yang akan diisi oleh Ayu Permata Dance Company berkolaborasi dengan O.M. Jarang Pulang dan juga biduan dangdut Jogja Rindy Atika.

Pada kesempatan itu juga, koreografer perempuan favoritku Ayu Permata Sari akan mementaskan karyanya Tubuh Dang Tubuh Dut. Aku sudah pernah 2 kali menyaksikan karya tersebut dipentaskan dalam 2 kesempatan yang berbeda (sudah pernah aku tulis review-nya di: https://itslove.id/tubuhdang-tubuhdut-karya-ayu-permata-sari-penonton-dangdut-laki-laki-di-tubuh-penari-perempuan/), namun karena malam itu karya tersebut untuk pertama kalinya akan dipentaskan menggunakan musik dangdut live lengkap dengan biduan dangdutnya, tentu aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk ikut serta menikmatinya.

Kami berangkat dari Magelang pukul 19.45 dan pada pukul 21.00 kami sudah berada di panggung utama ArtJog di bagian belakang gedung utama pameran. Pada pukul 21.15 pertunjukan dangdut dimulai di panggung. Orkes Melayu Jarang Pulang yang berpersonilkan beberapa laki-laki muda dengan seragam kaos bertuliskan nama O.M. mereka, seorang M.C. laki-laki yang lucu-lucu wagu gimana gitu, dan 2 orang perempuan biduan dangdut.

Biduan pertama mengenakan celana panjang, kaos, kemeja longgar kotak-kotak, serta berjilbab, dan biduan kedua mengenakan dress pendek berwarna merah menyala dan stocking transparan setinggi paha. Suasana yang dibangun sangat panggung dangdut sekali, seperti yang sering kita saksikan di lapangan-lapangan kampung atau alun-alun.

Mereka langsung membawakan lagu-lagu dangdut populer seperti Terajana, Naik Kereta, Sayang, Bojo Galak, Pamer Bojo, Kimcil Kepolen, Pikir Keri, Lagi Syantik, dan masih banyak lagi. Aku langsung terhanyut menikmati suasana kegembiraan di depan mata itu. Sekejap saja semua hal-hal yang menyebalkan yang kurasakan sebelumnya langsung terlupakan, larut bersama musik menggembirakan dan lirik-lirik lagu yang kurang lebih mengajak untuk selo wae, dipikir keri, ditinggal ngopi, dan yang semacam itu.

Intinya apapun masalah yang kita hadapi dalam hidup, apapun hal-hal yang menyebalkan, hadapi dengan santai aja, ngga usah dipikir dalam-dalam, selama masih bisa berjoget bersama mengikuti irama lagu dangdut, mau itu bojone galak, mau itu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, mau itu ditinggal kawin, mau itu keadaan ekonomi yang seret, mau itu karir yang mentok, mau itu selalu disepelekan atau tidak dianggap oleh orang lain, dan lain-lain, semuanya lewat, selama masih bisa berjoget bersama mengikuti irama gendang, setidaknya untuk sementara.

Aku rasa itu yang ditawarkan oleh setiap pertunjukan dangdut ya, yang malam itu dengan sangat bagus benar-benar bisa dibawa oleh ArtJog ke panggung utamanya. Aku tentu saja sangat bisa menikmati itu semua. Aku yang mengaku fans garis keras Queen dengan lagu-lagu rock tahun 70an dan 80an-nya itu bukan berarti jadi tidak bisa menikmati musik dangdut kan? Tetap bisa dong!

Selain pertunjukan di atas panggung, masih ada satu lagi pertunjukan di situ yang tidak kalah menariknya, bahkan mungkin lebih menarik. Ayu Permata Sari di tengah-tengah penonton yang berjoget dangdut, melebur bersama irama lagu dan goyangan puluhan penonton lainnya. Berpakaian ala bapak-bapak penonton dangdut yang mengenakan celana kain lusuh (sepertinya belum diganti sejak pulang kerja dari pabrik tadi sore), kaos biru muda lusuh, kalung rantai besar, jaket kulit hitam, dan sandal jepit, tubuh Ayu sudah benar-benar bertransformasi menjadi seorang laki-laki penonton dangdut sejati yang menikmati momen itu secara transedental, tidak peduli apa yang ada di sekitarnya. Dia menikmati itu untuk dirinya sendiri, menikmati relasi yang sangat personal dengan dirinya sendiri, hehehe.

Meskipun Ayu terlihat seperti salah satu saja dari puluhan penonton yang berjoget di depan panggung, sebenarnya kalau kita jeli memperhatikan, semuanya sudah ditata dengan baik sebagai bagian dari pertunjukan, salah satunya dengan lampu sorot yang selalu menyorot ke arah Ayu berjoget.

Setelah beberapa lagu dangdut populer dibawakan oleh biduan di atas panggung diiringi dengan Orkes Melayu dengan teriakan-teriakannya yang khas, mereka pun berhenti sebentar untuk beristirahat. Dan ketika musik sudah sama sekali berhenti sejenak itu, Ayu tetap saja berjoget dangdut di bagian belakang penonton sambil terus menggumamkan syair lagu dangdut yang dia tidak hapal liriknya. Dia sepertinya tidak sadar kalau musik sudah berhenti mengalun dan para penonton lain sudah berhenti berjoget.

Ayu tetap berjoget, karena seperti kubilang tadi, itu adalah relasi yang sangat personal dengan dirinya sendiri. Saking menghayatinya (terkadang sambil mengelap keringat dengan kaosnya dan membetulkan posisi celana dalamnya), sampai-sampai beberapa penonton yang mungkin tidak sadar bahwa itu adalah bagian dari pertunjukan berteriak-teriak, “Mbak, udah Mbak!” atau “Mbak, udah, nggak capek apa” atau “uwis Mbak, uwis”, hehehe.

Bagian kedua dari pertunjukan dangdut pun dimulai. Lebih seru dan lebih panas. Beberapa penonton naik ke atas panggung untuk ikut berjoget bersama biduan dan memberikan sawerannya, termasuk Ayu tentu saja. Interaksi dengan penonton semakin banyak. Penonton semakin banyak yang semakin berani berekspresi baik dengan berjoget di atas panggung sambil menyawer ataupun gerakan joget yang semakin beraneka macam di bawah panggung.

Beberapa penonton berjoget di atas punggung temannya, ada juga yang memakai helm, MC membagi-bagikan minuman (coke) pakai botol besar untuk bersama-sama, biduan meminta penonton ikut bernyanyi, penonton me-request lagu-lagu yang sesuai dengan suasana hatinya, personil O.M. makin kencang teriakan-teriakannya seperti “hak-e, hak-e” atau “oa-oe” atau entah teriakan apa yang penting bikin suasana makin panas dan seru saja. Benar-benar dapat banget suasana pertunjukan dangdut dengan segala kegembiraan dan celebrating life yang dibawanya. Penonton terhanyut dengan suasana yang ditawarkan and I can even tell that everybody is having fun that night, having fun in a very Indonesian common people way, hehehe. Sungguh malam yang menyenangkan.

Sekitar jam 23.15 biduan pun membawakan lagu terakhirnya, dan setelahnya, lagi-lagi, Ayu, sang penonton dangdut paling khaffah itu masih saja berjoget, seakan-akan tidak rela kalau pertunjukan itu selesai, tidak rela kalau kegembiraan itu berakhir. Ayu tetap berjoget, kali ini diiringi dengan suara gendang, disorot lampu, dan dikelilingi penonton lain yang bertepuk tangan dan berteriak penuh semangat menyaksikan tubuh dangdut yang Ayu tampilkan dengan maksimal. Sungguh sebuah klimaks yang sangat keren dari keseluruhan pertunjukan yang juga sangat keren.

Aku pun pulang dengan perasaan bahagia dan tidur nyenyak setelahnya, siap bangun keesokan paginya, dan siap menghadapi tantangan apapun yang ditawarkan hidup. Mungkin seperti itu juga yang dirasakan oleh penonton-penonton dangdut lainnya.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *