“TubuhDANG TubuhDUT” karya Ayu Permata Sari: Penonton Dangdut Laki-Laki di Tubuh Penari Perempuan

Aku ingin menuliskan review pertunjukan yang aku tonton semalam (17/01) di Teater Garasi Yogyakarta dalam acara bertajuk “Cabaret Chairil: Kediaman (Home/Stillness) Volume III” hari kedua. Kali ini adalah pertunjukan tari karya salah satu koreografer perempuan favoritku, Ayu Permata Sari, yang berjudul TubuhDANG TubuhDUT, sebuah karya tari kontemporer berbasis riset yang dilakukan oleh penciptanya di 2 tempat yang sering digunakan untuk pertunjukan musik dangdut di Yogyakarta dan Bantul. Sebelumnya, karena aku sama sekali bukan praktisi seni tari apalagi expert, aku hanyalah orang awam yang kebetulan penikmat keindahan, jadi review ini tentunya akan jauh dari mengomentari soal-soal teknis atau teori-teori kesenitarian atau ketubuhan (karena aku juga ga tahu soal itu, hahaha) dan akan lebih berfokus ke bagaimana aku menangkap messages, values, dan feels sebagai seorang penonton yang berinteraksi dengan sebuah karya seni.

Hujan tidak menyurutkan perjalananku ke studio yang terletak di daerah Bugisan ini. Sesampainya di sana, setelah bertemu dengan temanku yang aku seret untuk menemaniku menonton pertunjukan ini, kami segera masuk ke bagian samping dari studio tersebut dan terlihat beberapa penonton lain yang juga sudah berdatangan. Tidak ada bangku atau tempat duduk khusus penonton, panitia meminta kami untuk mencari tempat duduk yang nyaman secara lesehan di dalam tempat pertunjukan yang terbuka (seperti sebuah garasi besar) dengan panggung kecil tidak terlalu tinggi ala-ala panggung acara-acara RT di kampung atau di pesta pernikahan.

Penonton segera memenuhi tempat itu, dan tidak lama kemudian lampu dimatikan. Terlihat di sisi pojok samping di bagian belakang kerumunan penonton, Ayu Permata Sari, sang koreografer sekaligus penarinya, seorang perempuan, berdiri di sana, dengan sedikit cahaya lampu. Dia yang sebelumnya berpakaian seperti umumnya perempuan, menggunakan kain tenun, kaos, jaket, dan memakai jilbab, mulai melepas “kostum” perempuannya itu satu per satu. Dia melepas kerudungnya, jaketnya, dan kain tenunnya dan menyisakan dia yang mengenakan celana kain kombor abu-abu ala bapak-bapak dilengkapi dengan ikat pinggang yang dipakai serampangan, dengan celana kolor berwarna hijau yang sesekali terlihat berada di dalam celana kain itu, dan juga kaos biru muda belel yang warnanya sudah pudar. Setelah itu, Ayu pun mulai mengikat rambut panjangnya, mengenakan kalung rantai besar, dan tak lupa menambahkan 2 cincin akik besar di tangan kanannya, serta sandal jepit swallow. Pada waktu itu entah kenapa di mataku, Ayu sudah langsung berubah menjadi laki-laki, dari segala gerak-gerik dan ekspresinya, mungkin juga didukung dengan penampilannya, padahal jelas-jelas tubuh dan posturnya masih perempuan, tapi dia terlihat seperti laki-laki.

Selanjutnya musik mulai mengalun, lagu Terajana yang diciptakan oleh Bang Haji Rhoma Irama, and there she is, menampilkan diri sebagai laki-laki yang mulai menari dengan asyiknya. Ya laki-laki itu adalah penonton dangdut yang sering kita lihat di pertunjukan-pertunjukan dangdut di lapangan atau tempat-tempat terbuka lainnya. Penonton dangdut laki-laki di bagian belakang atau di pojok-pojok lapangan yang asyik dengan dirinya, berjoget dengan hatinya, tidak peduli gerakan apa yang dilakukannya, benar atau salah, bagus atau tidak, tidak peduli siapa penyanyi dangdutnya, berpakaian seksi atau tidak penyanyinya, tidak peduli apa lagu yang dinyanyikannya, yang penting dia bisa berjoget mengikuti irama lagu dangdut yang khas, melebur dengan dirinya sendiri. Tidak peduli ada apa di sekitarnya, dia hanya mau berjoget, berjoget untuk sejenak melupakan masalah hidupnya yang pelik dan gitu-gitu aja. Mungkin usaha jualannya hari ini sepi, mungkin sampai di rumah dia harus mendengar omelan istrinya yang seolah tidak ada jedanya, mungkin anak pertamanya sudah merengek meminta dibelikan seragam sekolah, mungkin anak keduanya yang masih bayi sudah dua hari menangis terus karena demam, mungkin mulut pedas mertuanya tidak henti-hentinya menyindirnya, mungkin tetangganya terus-terusan menagih hutang yang sudah 3 bulan lalu dipinjamnya, dan berbagai permasalahan hidup sehari-hari lain khas orang-orang kebanyakan yang biasa saja, tidak kaya, tidak ganteng, tidak sukses, tidak populer, tidak pandai bicara, tidak terlalu terlihat, yang menjalani hidup dengan biasa saja walaupun penuh perjuangan karena ya hidup memang seperti itu, memang harus seperti apa lagi?

Penonton dangdut laki-laki dalam tubuh perempuan Ayu asyik berjoget dengan dirinya sendiri.

Dengan berjoget dangdut sejenak, dia terlihat begitu menikmatinya, terlihat begitu menjadi dirinya sendiri, terlihat begitu tidak peduli mau sebrengsek dan semenyedihkan apa hidup tetap harus dinikmati, tetap bisa menemukan kebahagiaan dalam joget-jogetnya yang dari hati, yang terlihat begitu dinikmatinya, bahkan kadang dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Ayu, laki-laki penonton dangdut ini sampai sudah mencapat titik transenden, ketika dia sudah melebur dengan dirinya sendiri dan seperti sudah tidak berada di situ lagi tapi suatu tempat yang entah, hehehe. Mungkin ini yang disebut sebagai dance like nobody’s watching yak. Dan karena Ayu adalah penonton dangdut, maka sepanjang pertunjukan dia menari di antara para penonton pertunjukan malam itu, bukan di panggung kecil yang aku ceritakan tadi, tapi di antara penonton.

Tidak lama kemudian musik Terajana berhenti, suasana hening, laki-laki dalam tubuh perempuan Ayu terus asyik berjoget, terus asyik dengan dirinya sendiri, terus tidak peduli dengan sekitarnya, sekalipun Gunung Merapi meletus saat itu juga pun sepertinya dia tidak akan menyadarinya, atau kalau pantai selatan tiba-tiba tsunami pun mungkin dia akan terseret ombak dan mati dalam keadaan bahagia, hehehe. Dia menari sambil mencoba menyanyikan lagu “Pokoke Joget” yang dia tidak hapal lagunya, tidak hapal liriknya, hanya seperti humming saja sambil terus berjoget dan berjoget, “ora ngerti lagune, ora apal syaire, sing penting aku joget ae, pokoke joget, pokoke joget,” seolah-olah mewakili penggambaran laki-laki penonton dangdut yang tengah dibawa oleh Ayu ke panggung pertunjukan malam itu. Sambil menari, sesekali Ayu juga memegang selangkangannya untuk membetulkan posisi penisnya yang tidak nyaman (ya tentu tidak ada penis betulan) atau mengusap keringatnya dengan serampangan menggunakan kaosnya. Betul-betul seperti tindak-tanduk laki-laki di pertunjukan dangdut, walaupun ketika Ayu mengusap keringatnya menggunakan kaosnya dan kaosnya tersingkap, terlihat sedikit bra-nya, menunjukkan kalau dia adalah perempuan, perempuan tapi laki-laki, hahaha.

Tidak lama kemudian, musik kembali mengalun, kali ini lagu Kimcil Kepolen ciptaan NDX AKA. Laki-laki dalam tubuh Ayu kembali bergoyang, namun kali ini ada sedikit permainan dalam musiknya yang kadang dipelankan dan kadang dipercepat temponya, kadang musik berhenti-berhenti dan mati-mati. Gerakannya pun semakin bermacam-macam dan aneh-aneh serta lucu-lucu. Dalam diskusi yang dilakukan setelah pertunjukan berakhir, Ayu mengatakan gerakan-gerakan itu dia dapatkan dari hasil riset dia terhadap 5 orang laki-laki penonton dangdut, 3 orang di Gabusan Bantul dan 2 orang di XT Square Yogyakarta. Tidak hanya mengamati gerakan kelima laki-laki itu di pertunjukan dangdut, Ayu juga mengulik latar belakang mereka. Ada yang berprofesi sebagai tukang dagang sate dan gerakan jogetnya seperti sedang membakar sate, ada yang berprofesi sebagai cleaning service dan gerakan jogetnya seperti sedang mengepel lantai, ada yang berprofesi sebagai pekerja bangunan dan gerakan jogetnya seperti tengah memukulkan palu untuk memasang paku, ada yang berprofesi sebagai tukang ketik dan gerakan jogetnya seperti orang sedang mengetik, dan seterusnya. Padahal katanya ketika Ayu menanyakan kepada bapak-bapak itu, “gerakan apa itu”, jawab mereka “ya tidak tahu Mbak, pokoknya ya gerak saja”. Ternyata sadar atau tidak sadar, gerakannya pun merepresentasikan kehidupan mereka sehari-hari. Sungguh menarik sekali.

Penonton memberikan apresiasinya dan juga mengajukan pertanyaan seputar karya dalam diskusi yang digelar pasca-pertunjukan tari.

Menurut Ayu, karya ini masih akan diujicobakan lagi dan terus dikembangkan sampai menemukan bentuknya yang paling pas. Menurutku karya ini keren sekali, Ayu benar-benar bisa membawa dan menghadirkan para laki-laki penonton dangdut ke dalam panggung pertunjukan tari di hadapan puluhan penonton malam itu. Laki-laki penonton dangdut yang mewakili banyak laki-laki biasa saja yang hidupnya penuh perjuangan yang sering kita temui sehari-hari, yang mungkin adalah tetangga kita sendiri, teman kita sendiri, saudara kita sendiri, atau diri kita sendiri. Aku rasa semalam Ayu menjembatani interaksi kita dengan para laki-laki itu melalui pertunjukan apik TubuhDANG TubuhDUT yang ditampilkannya. Congratulations, Ayu!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Satu tanggapan untuk ““TubuhDANG TubuhDUT” karya Ayu Permata Sari: Penonton Dangdut Laki-Laki di Tubuh Penari Perempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *