Tulisan Panjang tentang Panjangnya Perjalanan Menghargai dan Mencintai Diri Sendiri

Keberhargaan diri mungkin merupakan inti dari identitas diri sebenarnya. Keberhargaan diri juga setara dengan istilah cinta empatik, yaitu kemampuan individu untuk mencintai dan menerima seluruh bagian diri secara menyeluruh tanpa perlu mendistorsi bagian-bagian tertentu. Melalui sense bahwa diri kita berharga dan layak mendapatkan cinta empatik maka kita akan mau dan mampu mengenali berbagai bagian diri tanpa merasa perlu menolak yang satu dan lainnya. Hmm, baik yang positif maupun negatif ya.

Misal, pernah tidak diminta menuliskan kelebihan dan kekurangan diri? Lalu, kita bisa menuliskan kekurangan diri seabrek gambreng tapi cuma bisa menuliskan beberapa poin kelebihan diri? Entah memang tidak dikenali, atau terlalu malu untuk mengakui karena khawatir dikira sombong. Salah satu teman saya mengakui kok bahwa melihat dirinya memiliki kualitas positif itu terlalu menakutkan juga karena selama perjalanan hidupnya, ia terbiasa melihat berbagai hal negatif dalam dirinya. Jadi, kelebihan diri bahkan tidak dikenali dan diakui.

Di sisi lain, kekurangan diri yang telah berhasil dikenali dan diakui itu juga tidak bisa kita terima dengan penuh cinta. Kita punya tendensi untuk tidak menyukai bahkan membenci sisi diri yang kita anggap negatif dan sangat berharap dapat kita enyahkan. Dalam artian, kita membuang atau mendistorsi bagian diri kita.

Kedua hal di atas pun membuat kita memiliki pandangan diri yang amat buruk. Pandangan diri yang tidak berharga dan tidak pantas dicintai.

Permasalahannya, pandangan diri itu secara tidak sadar terinternalisasi di dalam diri. Dilakukan oleh diri sendiri, dengan menjadikan diri sendiri sebagai korbannya.

Permasalahan selanjutnya, ketika kita tidak mampu menghargai dan mencintai diri kita sendiri, kita punya tendensi untuk mengais penghargaan dan cinta itu dari orang lain.

Kita menjawab keraguan dengan mencari validasi dari orang lain. Akibatnya, permasalahan dalam diri ini kemudian berdampak pada munculnya permasalahan-permasalahan interpersonal, baik dengan keluarga, teman, pasangan, dan sebagainya. Kita menggantungkan keberhargaan diri dari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Kalau orang lain menunjukkan perhatian seperti yang diinginkan, itu tandanya kita berharga. Kalau orang lain tidak menunjukkan perhatian seperti yang diinginkan, kita bertanya-tanya tentang se-valid inikah ketidakberhargaan dalam diri kita? Kadang, kemudian termanifestasikan dalam hal yang sangat sepele.

Misal, ketika seseorang tidak membalas pesan kita, secara otomatis mengaktifkan pandangan bahwa kita memang tidak sepenting itu, tidak semenarik itu, tidak seberharga itu. Makanya obrolan tentang centang biru sempat viral pada masanya sampai WhatsApp punya setelan untuk menonaktifkan si centang biru ini, hehe. Padahal, orang tidak membalas pesan bisa jadi karena banyak alasan. Pada diriku sendiri misalnya, karena saking sibuknya atau lelahnya kadang cuma sempat membaca pesan-pesan yang masuk di waktu yang sempit. Dengan tujuan, menyortir pesan-pesan yang mendesak untuk segera dibalas. Lalu, membalas lainnya saat masuk waktu istirahat atau berleha-leha. Tidak sempatnya untuk langsung membalas semua pesan yang masuk bukan berarti secara otomatis karena tidak menganggap berharga atau tidak penting, tapi karena waktu atau energi yang terbatas untuk mengecek handphone. Kadang bahkan di antara pesan-pesan yang diabaikan sejenak itu, ada beberapa pesan yang sangat menarik untuk dibalas dari orang-orang yang sangat aku hargai ada dalam kehidupanku.

Dalam artian, ketidakberhargaan dalam diri membuat kita jadi ahli tafsir dari perilaku orang lain. Sayangnya, hanya dilihat dengan kacamata kuda alias cara pandang yang berasal dari diri kita sendiri, beriringan dengan isu-isu personal yang tidak terselesaikan atau tidak disadari. Pikiran-pikiran yang muncul sifatnya menjadi otomatis dan berdasarkan asumsi tanpa ada upaya klarifikasi. Oleh sebab itu, bagaimana kita menjalin hubungan dengan orang lain tidak berlandaskan pada realitas yang ada.

Pada titik tertentu, kita menjadi semakin yakin bahwa diri kita memang tidaklah berharga. Kebohongan yang kita katakan terus-menerus pada diri kita sendiri pun menjelma menjadi sebuah kebenaran yang subjektif. Perasaan diri yang tidak berharga akan membuat kita mencari orang yang bisa tetap memberikan cinta dan kasih pada diri yang tidak pantas ini dengan syarat apapun. Akibatnya, kita menjadi submisif untuk menerima cinta dalam bentuk apapun, sedestruktif apapun. Kita menjadi sangat bertoleransi dengan pasangan yang berselingkuh, yang penting akhirnya tetap kembali pada diri kita. Masih ada sedikit cinta kok yang disisakan untuk aku. Kalau aku melepas dia, belum tentu ada lagi orang lain yang akan mau mencintai diriku yang tidak pantas ini. Hubungan dengan pola ini bisa terjadi di konteks apapun, dengan keluarga, teman, rekan kerja, pasangan, dan lain sebagainya.

Pada titik tertentu, kita menjadi semakin ingin mencari validasi ke orang lain bahwa sebenarnya diri kita memang berharga. Kita menjadi orang yang suka menuntut orang lain untuk melakukan ini dan itu. Kita menjadi orang yang suka menuntut orang lain untuk tidak melakukan ini dan itu. Menuntut, adalah, bentuk dari kuasa. Kuasa adalah bukti bahwa posisi kita tidaklah diremehkan oleh orang lain. Kuasa, pada beberapa bentuknya yang mendominasi orang lain, sesungguhnya adalah manifestasi insekuritas diri yang tidak berharga. Kita mencari validasi atas keberhargaan diri dengan cara menguasai orang lain. Hubungan dengan pola ini bisa terjadi di konteks apapun, dengan keluarga, teman, rekan kerja, pasangan, dan lain sebagainya.

Ketika kita sibuk mencari validasi dari orang lain, kita pun lupa untuk membangun keberhargaan dari dalam diri sendiri. Semakin kita lupa untuk membangun keberhargaan dari dalam diri, semakin kita sibuk mencari validasi dari orang lain. Begitu terus seperti lingkaran setan.

Jadi bagaimana memutusnya? Pertama, mengambil alih kesadaran kita terhadap proses internalisasi ketidakberhargaan dengan cara meluangkan diri untuk membangun keberhargaan dalam diri sendiri. Kedua, menemukan orang yang sudah memiliki keberhargaan diri dalam dirinya sehingga akan memperlakukan kita dengan cara yang menghargai. Mudah yang mana? Sama-sama tidak mudah, hehehe. Membangun keberhargaan dalam diri adalah proses yang perlu diakui dan diterima sebagai perjalanan yang panjang. Mencari orang lain yang akan menghargai diri kita juga seperti mencari bintang yang tertawa seperti kelenengan di antara ribuan bintang (ingat Little Prince hahaha, alias mencari jarum di tumpukan jerami). Atau ada opsi lain, yaitu mengakses bantuan psikolog yang memang tugas profesionalnya adalah memberikan cinta empatik ke klien, tapi ya berbayar yak. J

Namun di antara dua pilihan itu, ada satu pilihan lain yang paling susah dilakukan, yaitu mengubah orang yang tidak menghargai kita menjadi menghargai kita. Apalagi kalau orang tersebut juga tidak merasa ada yang salah dengan caranya memperlakukan kita. Coba deh dipikir, siapakah kita ingin mengubah orang lain yang tidak ingin berubah? Tuhan saja sampai mengirimkan ribuan nabi sepanjang sejarah bumi, hanya untuk menyampaikan pesan, bukan mengubah orang agar mengimani pesan tersebut. Oleh sebab itu, kalau memang ingin membangun keberhargaan diri, segera putuskan segala hubungan yang toxic yang akan membuat segala upaya jadi tidak kondusif. Eniwei, memutuskan hubungan toxic itu juga cara kita membangun keberhargaan diri lho.

Nah, setelah itu tugasnya adalah membangun keberhargaan dalam diri kita sendiri. Bagaimana caranya? Sederhana sekaligus kompleks sih, yaitu berusaha kenal dengan berbagai bagian diri dengan menangguhkan judgement baik dan buruk tentang bagian-bagian diri kita tersebut. Kalau kita mengenali ada sisi diri kita yang dependen, ya digakpapain dulu, wajar kok manusia itu punya dependensi. Lalu dikenali dependensi kita itu munculnya di saat kapan saja dan dalam situasi seperti apa serta ketika dengan siapa. Lalu, dependensinya itu munculnya dalam perilaku seperti apa? Apa sih manfaat sifat dependensi ada dalam diri kita? Ada tidak sih perilaku dependensi kita yang kalau dilestarikan justru merugikan untuk kita atau untuk orang lain? Kalau ada, mau kita ubah dengan cara apa ya perilaku tersebut agar tidak merugikan tapi kebutuhan dependensi itu tetap terpenuhi?

Untuk aku sendiri, pada akhirnya aku memahami bahwa dependensiku itu penting untuk membangun kelekatan dengan orang lain. Misal, perilakuku yang butuh curhat ke teman kesayangan. Kalau orang lain merasa dibutuhkan, akan terjadi timbal balik orang lain tersebut juga akan membutuhkanku, dan kami bisa semakin lekat. Namun, perilaku yang ingin berkontak terus-menerus justru membuatku tidak punya ruang untuk berkembang dan bisa jadi mengganggu untuk orang lain tersebut. Oleh sebab itu, aku saat ini meyakini bahwa as Joel Barish said, constantly talking is not necessarily communicating. Jadi, ya berkontak in a moderation way, tapi dengan menjalin relasi dan koneksi secara intensif sehingga kebutuhanku tetap terpenuhi dengan cara yang adaptif. Melalui cara mengenali, mengakui, menerima, dan mengelola bagian diriku yang dependen ini, aku tidak lagi memandang dependensiku sebagai hal yang aku anggap negatif. Namun, ya kuterima as it is.

Nah, ketika satu PR dengan bagian diri yang dependen bisa terurai, masih ada PR selanjutnya yaitu untuk memperlakukan berbagai bagian diri yang lain dengan cara yang sama, yaitu menangguhkan penilaian baik dan buruk, dan mengajaknya berdialog serta bekerja sama. Terasa kan kenapa membangun keberhargaan diri itu adalah proses yang panjang? Dan melelahkan lho menjalin dialog dengan berbagai bagian diri yang seabrek ini, karena seringkali juga membuat kita berhadapan dengan berbagai emosi yang tidak nyaman.

Namun, yang melelahkan ini adalah hal yang amat berharga. Kalau direfleksikan, perjalananku untuk lebih mampu melihat keberhargaan diri ini sudah dimulai sejak SMP hingga saat ini dan masih terus berjalan sampai mati kok. Namun bila dilihat secara lebih seksama, kadang rasanya masih surprise lho bagaimana diriku yang sangat benci pada diriku sendiri ketika SMP dulu, kini bertransformasi menjadi lebih ramah dan penuh cinta pada diri sendiri. Hal lain yang juga surprising adalah bagaimana aku bisa menjalin relasi yang lebih sehat, setara, dan menghargai orang lain. Sekali lagi, prosesnya panjang tapi penting kok.

Well, selamat menapaki jalan menemukan kembali keberhargaan diri kita ya. Percaya, dia sudah ada kok dalam diri kita masing-masing, serta, sedang menunggu dan merindu untuk kita temukan. Namun, tertimbun berbagai debu dan sampah sepanjang kehidupan sehingga yuk bersih-bersih diri. Kamar saja dibersihkan setiap hari, masa diri sendiri diabaikan, setiap hari pula? Cheers, peluk hangat dan penuh cinta dari aku yang juga masih berproses menghargai diri sendiri dan orang lain.

Novia Dwi R.

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.
Bagikan:

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.

2 tanggapan untuk “Tulisan Panjang tentang Panjangnya Perjalanan Menghargai dan Mencintai Diri Sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *