UNDER THE BANNER OF HEAVEN: KETIKA TUHAN DIJADIKAN ALASAN UNTUK MENGHABISI NYAWA SESAMA MANUSIA (MAJOR SPOILER ALERT)

Akhirnya selesai sudah menonton serial 7 episode ini. Sejak aku tahu Andrew Garfield sudah memiliki film (serial sih tepatnya) terbaru yang akan tayang pada tahun 2022, aku sudah ingin sekali menontonnya. Tapi sayang diputarnya di aplikasi pemutar film yang belum bisa diakses di Indonesia. Hingga akhirnya, aku senang sekali ketika seorang teman lama tiba-tiba mengirimi aku serial ini dengan catatan tulis reviewnya ya, hehehe. So here is my review!

Serial ini adalah serial yang dibuat berdasarkan sebuah novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh penulis Jon Krakauer berdasarkan kejadian nyata yang terjadi di Utah, Amerika Serikat pada tahun 1984. Tentang sebuah kasus pembunuhan yang didasari oleh keyakinan dari 2 orang penganut fanatik aliran agama Mormonisme. Well, yang harus digarisbawahi mungkin bukan aliran agamanya tapi interpretasinya saja ya, karena sebenarnya kedua pelaku pembunuhan ini sudah dikeluarkan oleh gereja LDS (Latter-Day Saints Church) yang merupakan gereja komunitas Mormon ini, dan bahkan sebenarnya ada 2 pemuka agama Mormon (Bishop) yang juga menjadi target pembunuhan kedua pelaku, tapi untungnya belum jadi kejadian.

Sebelumnya mohon maaf kalau aku banyak melakukan kesalahan dalam menceritakan soal aliran Mormon ini ya yang hanya aku tangkap dari satu sumber saja yaitu serial ini. Ditambah lagi ini crime series yang cukup rumit, aku nontonnya pakai subtitle English juga, terus banyak banget tokoh yang diceritakan, dan alur yang maju mundur dipenuhi flashback-flashback masa lalu, plus masih ditambah fragmen-fragmen adegan yang menceritakan tokoh pendiri aliran Mormon pertama (nabi pertama mereka) untuk menggambarkan sejarah dan nilai serta ajaran dari Mormonisme ini, plus ditambah lagi aku lagi banyak kerjaan jadi nontonnya pasti sudah lewat jam 11 malam. Komplet kan untuk menambah kebingungan dan upaya keras memahami dan menangkap storyline serial ini dengan benar, wkwkwkwk. Jadi kalau ada satu dua hal yang aku salah interpretasi ya mohon dimaafkan ya, hehehe.

Sejak awal adegan pada episode pertama kita sudah diperkenalkan pada dua tokoh utama film ini, yaitu detektif Jeb Pyre dan detektif Bill Taba. Oh ya konon tokoh kedua detektif ini fiktif ya, alias tokoh fiksi yang ditambahkan ke dalam kisah nyata yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Jeb Pyre (yang diperankan oleh pacarku Andrew Garfield) ini adalah seorang penganut Mormon yang sangat taat dan religius. Dia juga adalah suami, ayah, dan anak yang sangat berbakti kepada keluarganya. Tidak pernah lupa berdoa dan selalu memohon petunjuk Tuhan untuk apapun yang akan dilakukannya. Jeb Pyre juga adalah seorang polisi yang sangat berintegritas dalam menjalankan tugasnya, selalu serius dan selalu bekerja dengan hati dan kedisiplinan tinggi. Pyre yang tinggal bersama keluarga bahagianya (istri, 2 anak perempuan, dan ibunya yang sudah tua) ini juga sangat fokus dan penuh dedikasi ketika sedang menyelidiki sebuah kasus.

Sebentar, sebentar, intermezzo sebentar ya. Pacarku Andrew Garfield sering banget ya memerankan tokoh penganut agama yang sangat taat dan religius at its best. Sebut saja sebagai Desmond Doss, penganut Kristiani yang sangat taat hingga tidak mau membunuh (padahal dia tentara yang terjun ke medan perang) di film Hackshaw Ridge; sebagai Pastor Rodrigues seorang misionaris Katholik Portugis di film Silence; sebagai Jim Bakker seorang televangelist (penginjil di TV) di film The Eye of Tammy Faye, dan sekarang sebagai Jeb Pyre penganut Mormon yang taat di serial Under the Banner of Heaven ini. Padahal doi bukan penganut agama-agama yang dia perankan dalam film-filmnya itu di dunia nyata, hehehe.

Balik lagi ke review ya. Detektif satu lagi Bill Taba adalah orang Indian yang bukan penganut Mormon dan tidak tahu menahu tentang ajaran ini sehingga tidak punya keterlibatan emosional sama sekali, berkebalikan dengan Pyre ya. Serial episode 1 dibuka dengan Bill dan Pyre yang mendatangi lokasi kejadian perkara, sebuah rumah di mana di dalamnya sudah terbunuh dengan sadis seorang perempuan muda Brenda Wright Lafferty yang digorok lehernya di dapur dengan darah berceceran di mana-mana, dan bayinya Erica Lafferty yang berusia 15 bulan yang digorok lehernya juga di dalam tempat tidur bayi di dalam kamar, di mana darah juga sampai berceceran dan tercap di tembok-tembok di rumah itu. Pyre sampai menangis menyaksikan crime place ini mengingat dia punya dua anak perempuan yang sangat disayanginya di rumah.

Dugaan awal ini adalah kasus KDRT sehingga ditahanlah suami dari Brenda, yang bernama Allen Lafferty. Namun dalam interogasi, Allen mengatakan bahwa yang membunuh istri dan anaknya adalah orang-orang berjanggut tebal dan bahwa dia sangat menyesal dia tidak bisa melindungi istri dan anaknya yang sangat dicintainya, dan bahwa dia sudah bukan lagi penganut Mormon dan sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap ajaran itu lagi.

Selanjutnya kita diajak untuk mengenal keluarga Lafferty, keluarganya Allen yang merupakan keluarga besar dan terpandang, penganut Mormon yang sangat taat di kota itu. Keluarga Lafferty ini terdiri dari ayah, ibu, 6 orang anak laki-laki, 2 orang anak perempuan, beserta menantu-menantu dan cucu-cucu mereka yang jumlahnya banyak sekali, sehingga kalau acara keluarga sangat ramai sekali. Allen adalah anak bungsu di keluarga Lafferty. Dan di awal serial, keluarga Lafferty ini digambarkan sebagai keluarga besar yang hangat, harmonis, di mana semua anggota keluarganya saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain, pokoknya full senyum dan full canda tawa.

Sebenarnya kakak-kakak laki-laki Allen tidak terlalu suka Allen menikah dengan Brenda karena Brenda terlalu independent, berani bersuara, berani mengungkapkan pendapat atau keberatannya, bahkan dia juga sarjana lulusan universitas yang banyak membaca buku, dan bekerja sebagai pembaca berita di salah satu stasiun TV lokal, selain juga adalah seorang penyanyi. Pendek kata, Brenda tidak memenuhi ekspektasi gender tradisional perempuan yang dianut oleh pengikut Mormon (atau keluarga Lafferty saja ya) pada saat itu, bahwa perempuan itu mesti nurut pada suami, di rumah saja, dan diam saja jangan banyak ngomong atau berperan di publik, cukup mengurus rumah dan anak, dan tidak perlu tahu “urusan laki-laki”.

Allen sebenarnya tidak keberatan dengan karakter Brenda yang modern, kritis, dan berani ini, keluarga Allen lah yang keberatan. Apalagi semakin ke sini, Brenda juga mempengaruhi kakak-kakak iparnya (istri-istri dari kakak-kakaknya Allen) agar sebagai perempuan juga punya hak untuk bersuara, punya peran lebih di keluarga dan masyarakat, serta berhak menolak jika diperlakukan dengan buruk. Makin kebakaran jenggot saja kakak-kakak laki-laki Allen, terutama Ron Lafferty kakak tertuanya dan juga Dan Lafferty, yang semakin terlihat keberatan pada Brenda karena telah mempengaruhi istri mereka untuk “melawan” suaminya. Apalagi ketika kemudian Dianna istri Ron mendapatkan KDRT fisik dan psikis dari Ron dan Brenda menolongnya agar bisa kabur menyelamatkan diri dari Ron dengan membawa serta keenam anak mereka, makin emosilah si Ron ini.

Dan Lafferty, kakak Allen yang lain, yang tadinya digambarkan berkarakter lembut dan manis, setelah bisnisnya gagal dan karir politiknya berantakan, akhirnya mencoba untuk semakin mendekatkan diri dengan ajaran agamanya. Dia pun mempelajari catatan-catatan ajaran Mormon yang menurut dia sudah banyak dihilangkan bahkan dari perpustakaan kota setempat. Salah satu ajaran yang dia maksudkan itu adalah poligami, bahwa seorang laki-laki itu boleh memiliki istri sebanyak mungkin agar memiliki keturunan sebanyak mungkin, dan adalah God’s will ketika laki-laki memiliki nafsu tinggi dan oleh karena itu harus disalurkan melalui punya banyak istri, kurang lebih begitu, yeah right Dan. Istri Dan, Mattilda pun keberatan dengan niat Dan untuk berpoligami, apalagi ternyata Dan ingin berpoligami dengan kedua anak perempuan bawaan Mattilda yang masih berusia 14 dan 12 tahun, idih banget dah ini, disturbing scene banget.  Alasan Dan adalah bahwa nabi pertama mereka juga memiliki puluhan istri termasuk istri-istri yang masih di bawah umur.

Tidak hanya itu saja, ke sini-sini Dan dan Ron mulai meyakini bahwa diri mereka adalah  nabi selanjutnya yang diutus oleh Tuhan, dan salah satu dari tugas serta privilege kenabian mereka adalah mereka boleh meneteskan darah orang-orang yang dianggap mengganggu atau tidak sesuai dengan ajaran yang mereka percayai itu. Mereka pun lalu membuat list alias daftar nama orang-orang yang darahnya halal untuk mereka teteskan ke bumi. Mereka meyakini bahwa itu adalah perintah langsung dari Tuhan.

Detektif Jeb Pyre yang dalam proses penyelidikannya mesti menginterogasi para anggota keluarga Lafferty dan juga beberapa bishop serta para tetangga mereka ini pun mau tidak mau jadi terseret secara emosional dan memiliki banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran dan batinnya tentang ajaran agama yang selama ini dia yakini. Mungkin pergulatannya adalah soal apakah ini ajarannya yang salah atau beberapa orang tertentu saja yang salah menginterpretasikannya sehingga ajaran agama yang sangat dia junjung tinggi itu bisa-bisanya dijadikan dasar atau alasan seseorang menghabisi nyawa orang lain, mana termasuk bayi 15 bulan pula. Itu sungguh membuat hati Jeb Pyre remuk redam, keyakinan dan imannya pun menjadi tertantang, hatinya gelisah, kepalanya penuh dengan beribu pertanyaan, hingga membuatnya diam-diam menangis tersedu-sedu. Duh adegan ini—Andrew Garfield menangis tersedu-sedu karena kegelisahan hatinya dan pergulatan batinnya—kuulang-ulang sejuta kali dan kuamati setiap detailnya, hehehe.

Beruntung dia memiliki rekan kerja Bill Taba yang berdarah Indian dan merupakan outsider dalam hal keyakinan Mormon ini. Justru sebagai outsider, Bill bisa membantu Pyre menemukan jawaban-jawaban atas kegelisahan hatinya dan berdamai dengan tantangan-tantangan internal maupun eksternal yang ditemuinya sepanjang penyelidikan kasus ini. Dan Bill ini sangat mengenal Pyre dan sebenarnya kagum juga dengan keimanan dan religiusitas Pyre. Sementara bagi Pyre, Bill merupakan teman di mana dia bisa “nakal-nakal” sedikit melanggar ajaran agamanya, seperti misalnya memakan makanan yang dilarang atau berkata-kata kasar, soalnya normally Pyre ini ngomongnya sangat halus dan sopan.

Bagaimana akhirnya Jeb Pyre dan Bill Taba memecahkan kasus ini sangat menarik dan seru untuk kita ikuti detailnya, apalagi buat para penggemar crime series ya. Oh ya, aku kan sempat baca di Google ya tentang kasus keluarga Lafferty ini. Ron dan Dan akhirnya dipenjara. Ron sempat mau bunuh diri dan sempat mau membunuh Dan (yang terakhir kusebut ini digambarkan di serial). Ron akhirnya meninggal dunia di penjara sebelum tanggal hukuman matinya datang. Sementara Dan masih dipenjara hingga hari ini, dan dia masih dengan bangga menyatakan bahwa dia tidak menyesal melakukan kejahatannya itu karena menurutnya dia membunuh atas perintah dari Tuhan, dan sampai hari ini pun Dan masih meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang diutus langsung oleh Tuhan, luar biasa ya.

Okay, sampai pada bagian akhir dari review ini ya. Rating aku untuk serial ini adalah 8 dan untuk akting Andrew Garfield di serial ini adalah 8.5!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | UNDER THE BANNER OF HEAVEN: KETIKA TUHAN DIJADIKAN ALASAN UNTUK MENGHABISI NYAWA SESAMA MANUSIA (MAJOR SPOILER ALERT)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *