You Are the Luckiest Person if Your School Friend is Still Your Best Friend

Yes, and I am that person, because my junior high school best friend is still my best friend. Jadi ceritanya waktu SMP tahun 1994, it’s like 24 years ago, aku punya seorang teman yang satu frekuensi banget. Selama 3 tahun di SMP kami hanya satu tahun saja sekelas, rumah kami tidak dekat, tapi kami punya hobi yang sama yang selalu kami lakukan bersama-sama, seperti nonton bioskop di Magelang Theater yang tiketnya seharga 1.500 saja dan film yang diputar adalah film-film yang di TV hebohnya sudah 6 bulan sebelumnya. Aku masih ingat betul pulang sekolah kami jalan dari SMP kami ke gedung bioskop yang berjarak cukup jauh untuk menonton film apapun yang tayang seperti Batman Forever, Evita, English Patient, Casper, dan lain-lain. Selain itu kami juga punya hobi yang cukup “aneh” bagi anak-anak SMP yaitu mengunjungi museum-museum yang beberapa di antaranya cukup aneh dan tidak pernah ada pengunjungnya. Hobi yang agak “normal” kami adalah travelling bersama, walaupun untuk anak SMP tahun 1990an, travelling sampai ke Candi Borobudur naik bis kota saja, itu rasanya sudah keren banget, hehehe.

SMA kami masih satu sekolah, tapi tidak sedekat waktu SMP, dan tidak pernah sekelas sama sekali. Aku dengan geng-ku yang baru dan temanku dengan geng-nya yang baru. Begitupun selepas SMA, aku kuliah di Bandung dan temanku kuliah di Yogyakarta, kami hampir tidak pernah bertemu lagi selama kurang lebih 8 tahun. Hingga media sosial mempertemukan kami kembali pada tahun 2008 ketika aku mulai kembali ke Yogyakarta. Pada tahun itu, temanku justru baru saja meninggalkan Yogyakarta dan pindah bekerja di Jakarta. Namun karena suaminya tinggal di Yogyakarta, dia pulang 2 minggu sekali, dan di saat-saat kepulangannya itulah kami mulai sering bertemu. Dan seiring berkembangnya teknologi, komunikasi kami semakin intensif, dan kami mulai berbagi tentang banyak hal secara mendalam.

Temanku itu sangat ingin bisa pindah bekerja di Yogyakarta. Akhirnya pada tahun 2013 dia benar-benar bisa pindah ke Yogyakarta namun langsung melanjutkan studi ke luar negeri hingga tahun 2015. Lagi-lagi, terima kasih kepada teknologi yang membuat kami tetap bisa berkomunikasi. Baru setelah dia kembali lagi ke Yogyakarta, kami bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Walaupun tidak bisa terlalu sering karena kesibukan pekerjaan masing-masing. Tapi itu mungkin yang disebut low maintenance friend ya, the ones you don’t talk to for months because you both are very busy in life, but when you meet up, there’s nothing but love.

And here we are now, trying to steal as much time as possible to meet up and to sharing stories about everything. Dan justru karena temanku bekerja di pemerintahan dan aku selalu bekerja di luar pemerintahan, kami malah jadi bisa saling melihat perspektif masing-masing dan saling mendapatkan gambaran dari sisi yang berbeda, walaupun tentu saja dengan dibumbui oleh gossip-gosip dunia persilatan, hehehe. Satu hal yang paling menarik adalah sudah hampir 2 tahunan ini, kami mengulang kebiasaan kami waktu SMP dulu, pergi ke gedung bioskop dan menonton film apapun yang sedang tayang. Bedanya hanya dulu sepulang sekolah, sekarang sepulang kerja, namun masih sama-sama menggendong backpack yang dulu berisi buku sekarang berisi laptop. Walaupun dulu di bioskop Magelang yang orang boleh merokok di dalam dan sering ada tikus lewat sementara sekarang bioskopnya lebih fancy, tapi kami masih sering menyembunyikan makanan yang engga banget buat dibawa masuk ke bioskop seperti gorengan, empek-empek, atau fried chicken. Yang jelas kalau dulu kami sering keluar bioskop dengan bingung apa sebenarnya maksud dari film yang baru saja kami tonton. Sekarang, karena pengetahuan dan pengalaman kami sudah jauh lebih banyak, kami bisa lebih menikmati film-film itu.

Well, we’re born alone, we live alone, we die alone. Only through our love and friendship can we create the illusion for the moment that we’re not alone.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *